Hope is Alive!

Selamat Paskah untuk kita semua!


Acara online Inspire Mei ini dibawakan oleh Riko Ariefano, diikuti dari berbagai kota di Indonesia dan beberapa negara, kali ini bertema Hope is Alive. Kita diajak untuk mengingat kembali makna kebangkitan Yesus di hari Paskah, dimana sebelum Paskah kita menjalani puasa, pantang, merayakan Minggu Palma, Kamis Putih, dan seterusnya, setiap tahun kita alami berulangkali. Tapi, apakah sebenarnya kita sendiri memahami makna Paskah? Apakah Paskah mengubah hidupku? Atau semua itu hanya ritual saja?


Riko mengaitkan hal ini dengan kondisi tertanam yang sudah dibahas berulang kali dalam Inspire bulan-bulan lalu. Kondisi tertanam atau terkubur seperti Tuhan Yesus, melibatkan adanya brokenness. Benih yang jatuh ke dalam tanah akan pecah dan “mati” supaya bisa menumbuhkan kehidupan baru. Pecahnya kulit benih, itu sebenarnya akan menumbuhkan akar, karena adanya nutrisi yang diserap dari tanah. Dengan menjadi broken, benih itu justru menjadi permulaan kehidupan tanaman baru.


Paskah juga merupakan hal yang sama. Yesus menderita hingga disalibkan, tetapi Ia tahu bahwa Ia punya harapan akan kehidupan baru melalui kebangkitan-Nya. Untuk sukacita itulah, Dia rela “menanggung salib dan mengabaikan rasa malunya” (Ibrani 12:2b). Demikian juga ketika kita berada dalam penderitaan, terluka, bahkan di ujung kematian, itu bukanlah tujuan akhir, karena di balik semua ini, ada hidup yang baru, jalan menuju yang baik, yang Tuhan mau berikan pada kita. Jadi, jika kita sanggup melihat sukacita yang ada di depan dengan iman, maka kita akan tetap setia dalam penderitaan, sampai janji Tuhan di genapi.


Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa orang yang memiliki harapan, akan hidup dengan cara yang berbeda. Harapan itu dilatih melalui kesabaran, terus berbuat baik, kerendahan hati, menerima misteri Tuhan itu dan mempercayai-Nya, bahkan di saat-saat gelap ataupun dalam kegagalan. Kita semua diajak untuk menjadi orang yang memiliki pengharapan, bahkan ketika rasanya sudah “mati”, seperti Lazarus, Yesus sanggup membangkitkan dia dari kematian.


Acara Inspire ini, di akhiri dengan sesi QnA yang menjawab beberapa pertanyaan yang diterima, dipandu oleh Stivanny dan Mike. Salah satu pertanyaan yang menarik berkaitan dengan perasaan yang dirasakan oleh Yesus, yaitu ketika Ia menanggung salib, apakah Ia merasa sedih atau senang. Riko dan Lia mengatakan bahwa Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia, sehingga walaupun sebagai Allah, Dia tahu outcome dari penderitaan-Nya adalah baik, Ia tetap bisa merasa sedih dan ketakutan. Tapi Yesus juga sangat mengasihi manusia, sehingga Ia tetap memilih untuk menderita dengan sukacita karena mengetahui outcome nya.


Sama seperti yang dirasakan oleh Yesus, kita diajak untuk melihat jauh ke depan. Penderitaan yang kita alami saat ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan menuju sukacita yang sejati. Hope is alive, and His name is Jesus.



Sampai bertemu di Inspire bulan depan, di hari Sabtu, minggu pertama pada jam 15.00 WIB. Jangan lupa subscribed YouTube: Inspire Group untuk mengikuti acara selanjutnya.


7 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua