• domuscordis

Inspire Jakarta: Bridge of Mercy


Inspire bulan ini membahas mengenai kubur yang kosong, kehadiran Yesus dalam ruangan tertutup, dan damai yang Ia berikan kepada para murid-Nya. Ia juga mengutus mereka untuk sebuah misi, yaitu menjadi perantara Allah dan manusia. Ia ingin lebih banyak orang mengetahui tentang belas kasih Allah yang ditampilkan dalam sosok Yesus yang mau melakukan segalanya untuk menebus umat manusia, bahkan sampai mati di Kayu Salib. Ini adalah suatu kabar gembira, dan Ia ingin agar lebih banyak orang bersukacita karenanya.

Yesus yang menjadi jembatan kerahiman Allah, menghendaki para murid juga menjadi jembatan kerahiman yang sama bagi orang lain.

Termasuk bagi kita, dan kitapun mendapat tugas yang sama bagi sesama kita.


Menjadi Jembatan Bagi Siapa?

Pertanyaan refleksi kali ini adalah "Siapa yang akan kamu jembatani untuk dapat berjumpa dengan Kristus?"


Banyak orang dalam lingkunganku yang sama sekali belum mengenal Kristus, termasuk keluargaku dan teman-temanku. Tetapi, aku menjawab saat ini yang paling ingin ku jembatani adalah rekan-rekan kerjaku. Alasannya sederhana, karena di sanalah pertama kali aku menemukan jembatan kerahiman Tuhan untukku sendiri.


Aku melewati banyak hal sejak memutuskan untuk mengikuti Tuhan dalam Gereja Katolik. Banyak kejadian yang menyakitkan terjadi, dan hanya bersama Tuhan aku mampu melewatinya. It was a good thing, karena melalui situasi-situasi itulah, aku mendengar suara Tuhan memanggilku, dengan lebih baik. Dan di tempat kerjalah aku pertama kali menemukan embodiment dari kasih Tuhan.



Tahun 2019, ketika baru pindah kembali ke Jakarta, aku berada di masa-masa di mana aku merasa sangat sendirian, sehingga aku kembali pada kebiasaan burukku untuk secara impulsif mengonsumsi alkohol. Aku tidak bisa menceritakan hal itu kepada siapapun saat itu, karena aku adalah tipe yang membutuhkan waktu untuk membuka diri pada orang lain. On one of the days when it got worse, ketika sampai di kantor, aku menemukan sekotak apple pie di mejaku. Tanpa nama, tapi aku tahu siapa yang memberikannya. Sangat sederhana, tapi melalui orang itulah Tuhan mengingatkan aku bahwa Ia mengasihiku.


Orang-orang mungkin berpikir bahwa menjadi seorang convert, artinya aku punya banyak pengalaman “luar biasa” dengan Tuhan. Nyatanya, pengalamanku yang paling berkesan dengan Tuhan, dan yang paling life-changing, adalah lewat sekotak apple pie. Sangat sederhana, tapi hal itulah yang menjadi alasan aku mau menjadi jembatan kerahiman yang sama untuk rekan-rekan kerjaku yang lainnya. Sebagaimana orang itu mengenalkan kepadaku, aku juga mau berusaha memberikan kebaikan untuk orang lain, mengubah kondisi di tempat kerjaku menjadi lebih baik, dan memberikan diriku lebih banyak bagi timku yang membutuhkan bantuanku. Tuhan bekerja melalui orang itu, sehingga aku bisa memandang dunia dengan hati yang lebih damai dan gembira. Dan akupun ingin menjadi seperti orang itu.


Kalau dipikir-pikir, menjadi jembatan kerahiman Allah mungkin tampak sebagai sesuatu yang sangat luar biasa, seperti para rasul, para santo dan santa, para martir, dan lain sebagainya. Tapi kurasa dalam kehidupan kita sehari-hari, kita bisa menjadi jembatan kerahiman Allah, dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana, sesederhana apple pie di meja kerjaku.

Tuhan menampakkan diri-Nya dalam cara-cara yang tidak terduga, personal, sederhana, kecil, tetapi mendalam dan berkesan. Dan satu hal yang pasti: akan selalu ada damai sejahtera yang dirasakan. Rasa yang akan selalu ditemukan ketika kita berjumpa dengan Tuhan.


So stay tuned untuk Inspire selanjutnya!


Buat kamu yang belum nonton Inspire Jakarta yang lalu, bisa klik video berikut ini:



Penulis: Aufa - DC Jakarta (Caritas)

Editor: Ermelinda - DC Jakarta (Gioia)

10 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua