• domuscordis

Mengasihi Rentan Disakiti, Namun Tetap Memilih Mengampuni

Diperbarui: Jun 1

Salah satu buku yang paling aku sukai bercerita mengenai perjalanan seorang gembala perempuan menuju ke Tempat yang Tinggi. Ia menempuh perjalanan yang jauh dan berat karena percaya pada janji Kepala Gembala bahwa ia akan memiliki penghidupan yang lebih baik di Tempat yang Tinggi, yaitu tempat Bapa-Nya. Di dalam buku itu, ada kutipan yang sangat aku sukai. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira seperti ini percakapannya:

"Mengasihi berarti menempatkan dirimu di bawah kekuatan orang yang kamu kasihi dan menjadi sangat rentan disakiti, dan kamu sangat takut akan disakiti, bukan?”

“Ya, aku sangat takut.”

“Tapi mengasihi itu sangat menyenangkan, bahkan ketika kamu tidak dikasihi kembali. Memang ada rasa sakitnya, tapi Kasih tidak menganggap hal itu terlalu signifikan.”

Kerentanan untuk disakiti muncul karena kita mengasihi, atau setidaknya punya perasaan atau ekspektasi tertentu, pada orang lain. Itulah sebabnya kita bisa terluka sangat dalam, hingga sulit untuk mengampuni orang yang menyakiti kita. Itulah sebabnya kita merasa “terhutangi” ketika orang yang kita kasihi dan kita percaya menyakiti kita. Tapi, permasalahannya adalah kita semua bahkan diminta untuk mengampuni orang yang menyakiti kita 70 kali 7 kali!


Dalam Inspire kali ini, Riko mengajak kita untuk mengingat kembali perintah untuk mengampuni itu. Di samping itu, kita juga diajak untuk melihat kembali contoh nyata dari perintah itu, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Kematian Tuhan Yesus di kayu salib bertujuan untuk mendapatkan pengampunan bagi dosa-dosa kita, bahkan termasuk dosa-dosa di “masa depan” yang belum terjadi. Tapi, Ia bahkan sudah memilih untuk mengampuni kita, sebelum kita menyakiti-Nya.


Tuhan Yesus membuat keputusan untuk mengampuni dosa-dosa kita, bahkan sebelum kita melakukan dosa-dosa itu. Ia membuat suatu pilihan yang tidak berdasarkan perasaannya semata, melainkan berdasarkan Kasih yang lebih luhur. Ia memilih untuk membebaskan kita dari “hutang-hutang” kita kepada-Nya. Dengan demikian, bukankah artinya kita kehilangan hak kita untuk tidak mengampuni orang yang melukai kita?



Salah satu tips yang diulas dalam Inspire kali ini adalah dengan membuat batas waktu tertentu mengenai perasaan marah dan terluka yang kita alami. Rasa marah, sedih, kecewa, atau luka yang kita rasakan itu nyata dan valid. Mengampuni tidak berarti perasaan itu hilang. Kita hanya memberikan batas waktu bagi diri kita sendiri untuk terlalu fokus pada perasaan-perasaan itu, dengan tujuan membebaskan diri kita sendiri dan membebaskan orang yang melukai kita dari “hutang” itu. Kita boleh saja merasa marah dan kecewa, misalnya dalam 3 hari ke depan saja. Setelah itu, mari kita memilih untuk membuat keputusan yang sama seperti Tuhan Yesus: memberikan pengampunan.


Bagaimanapun juga, belas kasih yang ditunjukkan Tuhan kepada kita adalah belas kasih yang tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan. Atau, seperti kata Kepala Gembala, “Memang ada rasa sakitnya, tapi tidak signifikan”!


Ingin tahu tips lainnya untuk mengampuni? Stay tuned untuk Inspire Jakarta di tanggal 5 Juni 2021!




Penulis: Aufa - DC Jakarta (Caritas)

Editor: Tasia - DC Jakarta (Salve Regina)

27 tampilan0 komentar