• domuscordis

INSPIRE Jakarta | Entrust Series #1 | Faith Matters

Diperbarui: Mei 11

Pertanyaan menarik untuk kita renungkan: bagaimana sepanjang tahun ini (2020) kita bisa memercayakan hidup kita kepada Tuhan? Ini bukanlah sekadar pertanyaan, tapi juga ajakan dari Riko Ariefano, di INSPIRE Sabtu, 1 Februari 2020, untuk kita semua, agar masuk ke dalam perahu bersama Yesus dan para rasul. Tepat seperti kisah dalam Lukas 5:1-11.


Keajaiban menangkap ikan (Gambar oleh Psephizo)

Para rasul itu tidak tahu, tidak kenal, siapa itu Yesus. Apalagi saat Yesus menyuruh mereka menebarkan jala. Padahal sudah sepanjang malam mereka berusaha menangkap ikan, namun nihil. Lalu datang seorang yang tak dikenal, sok mengajari. Bahasa kasarnya begitu.

Yah tapi itu "cara jualan" Yesus. Pokoknya tebarkan saja jalamu. Dan akhirnya jala ditebarkan, entah mungkin dengan terpaksa dan hati yang tidak percaya. Atau kesal. Saat ditebarkan, hasilnya? Sangat buanyaak, bahkan mereka harus memanggil temannya untuk bantu mengangkat jala yang sudah mau koyak.


Jualan Yesus laku. Mereka akhirnya percaya. "Gila choy", mungkin begitu kira-kira dalam hati mereka, saat menangkap ikan begitu banyak. Nelayan dikalahkan oleh tukang kayu. Pada akhirnya mereka ikut Yesus yang berkata: "Follow Me."


Keputusan Mengikuti Yesus

Begitu pun kita. Jika diingat-ingat, keputusan kita ikut Yesus terkadang tidak sepenuhnya kita sadari. Entah itu karena ajakan, atau sifatnya warisan orang tua. Tapi sebaiknya mulai sekarang kita perlu menyadari itu. Karena itu bukan soal berkata yes or no. Tapi soal iman.


Lalu iman itu apa sih?

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1).

Memang agak absurd penjelasannya. Butuh bukti. Makanya iman butuh diuji. Bagaimana kita bisa tahu apa yang tidak kita percayai itu akan terjadi. Nah itu yang tadi telah ditunjukkan oleh para nelayan.

Tanpa iman kita tidak mungkin berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6). Ingat, hanya iman yang menyenangkan hati Tuhan. Tapi secara jujur kita harus mengakui: bahwa seringkali kita berusaha untuk berjuang sendiri. Percaya pada kekuatan diri sendiri, tanpa mau melibatkan Tuhan.


Ciri-ciri Iman


Jika demikian, coba kita lihat ciri iman, Riko membaginya ke dalam 3 tahap:


1. God's Revelation


Menurut KGK, ada dua tokoh yang bisa diteladani. Keduanya dari kurun waktu yang berbeda. Satu dari perjanjian lama. Satu lagi dari perjanjian baru. Abraham dan Maria.

Lihat kisah Abraham. Tuhan mewahyukan diri kepadanya. "Pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Yang jadi pertanyaan: pergi ke mana? Terbayang gak saat Abraham menjelaskan kepada Sarah, istrinya, "Sarah, Tuhan suruh kita pergi." "Ke mana?" Mungkin begitu tanya Sarah. "Yah pokoknya pergi sajalah..." What..?

Tapi karena Abraham percaya, maka tetap dia pergi. Dengan segala ketidakpastian itu.


Ingat, kadang revelation dari Tuhan itu tidak masuk akal. Apa sih? mungkin sampai kita bertanya demikian . Tapi... percaya saja dulu. Tuhan telah menaruh Roh Kudus dalam hati kita, agar bisa percaya akan hal-hal yang tidak make sense itu.


Juga kita bisa belajar dari para kudus. Ibarat senior kita yang telah lulus, bisa jadi panutan. Karena jika kita percaya, Tuhan akan menggenapi janji-Nya di kemudian hari. Tapi perlu diingat, tidak semua orang dipanggil seperti cara Abraham itu. Kita semua mempunyai panggilan yang berbeda. Asal kita mau percaya.


2. Obedience


Ketaatan itu tinggi posisinya, hanya bisa didekati oleh mereka yang rendah hati. Abraham itu percaya dengan segala alasan yang tidak masuk akal itu. Pokoknya percaya saja. Sadar atau tidak, kadang taat itu hanya sebatas pada aturan. Bukan pada Tuhan.


Taruhlah contoh, sebagai anggota komunitas Domus Cordis (Cordisian), para anggota berdoa atau Ekaristi harian bukan karena taat pada Tuhan, melainkan hanya untuk memenuhi kewajiban Formation. Adakah seperti itu? Semoga tidak yah.


Contoh lagi Abraham. Ia bahkan taat sebelum adanya peraturan. Ingat kan. Abraham ada sebelum Musa, dan Tuhan menurunkan 10 Perintah Allah yang berisi peraturan dan larangan-larangan itu pada jaman Musa. See... Ketaatan Abraham itu jempolan lah.


3. Action

Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Yakobus 2:14). Coba dipikir-pikir, dalam sebulan terakhir adakah hal-hal yang kita lakukan/keputusan yang kita ambil hanya berdasarkan natural thinking kita? Atau sebatas memenuhi syarat taat pada peraturan?


Maksudnya begini: ketaatan itu tidak hanya sekadar ngomong saja. Atau sekadar berakhir pada kata-kata. Yah, take action lah. Abraham take action, padahal tidak tahu harus pergi ke mana. Tapi akhirnya dia pergi juga.


Jadi kalau bilang kita taat tapi tak ada action-nya yah ibarat orang yang berkata lapar namun tidak ingin makan apa-apa. Nah asal ketaatan kita diikuti dengan motivasi yang benar, dan belajar percaya pada God's revelation, Tuhan memberikan revelation kepada kita dengan cara yang berbeda. Dengan cara yang unik. Dan spesial untuk setiap orang. Let's go, guys...

5 tampilan
DOMUS CORDIS

Hubungi  kami untuk ikut menginspirasi orang muda

demi dunia yang lebih baik di dalam Kristus.

Email: info@domuscordis.com

Phone: +62 21 52964237

FB: @domuscordis
IG: @domuscordis

© 2020 by Domus Cordis |  Terms of Use  |   Privacy Policy