• domuscordis

INSPIRE JAKARTA - October 2019: On Track

Yakin mengikuti Tuhan, seringkali belum tentu yakin lho dengan jalan yang dijalani saat ini. Apakah benar jalan gue sudah sesuai alias on track?



"Gue punya gambar diri yang nggak baik, entah karena sering diabaikan di rumah, karena kata-kata dari orang-orang terdekat yang terdengar sepele namun mengendap sampai melukai. Umur kepala tiga, belum menikah, belum mapan, fisik yang tidak menarik, di tengah segala nyinyiran plus ketidakpedean itu, gue masih tetap memilih percaya kepada Yesus...", sharing Lia yang adalah salah satu anggota komunitas Domus Cordis.



Perjalanan ikut Tuhan bukanlah perjalanan yang mudah. Kalimat ini terdengar seperti mematahkan dan mematikan semangat kita, untuk ikut Tuhan.


Riko Ariefano di #INSPIREJAKARTA edisi Oktober ini mengajak kita untuk melihat perjalanan mengikuti Tuhan selama ini. Apakah kita sekarang sedang sejalur dengan Tuhan? Atau malah melenceng.


Riko mengajak kami untuk "masuk ke dalam perahu bersama Petrus" melalui Injil Matius 14:22-33. Peristiwa mendayung perahu bersama Petrus, lalu mengalami perahu karam di tengah danau, badai di tengah jalan. Kisah itu sendiri sebenarnya menceritakan Yesus yang menyuruh Petrus dan kesebelas murid, untuk pergi lebih dulu. Lalu Yesus menyusul kemudian, dengan cara yang tidak lazim.


Lukisan karya Ludolf Backhuysen

Perjalanan itu, rupanya perjalanan penuh pengalaman menakutkan. Pengalaman dikepung badai, perahu yang digoyang angin sakal. Yang membuat hati para murid bergoncang, ketakutan. Lalu tiba-tiba sesosok makhluk muncul dari tengah badai, dengan berjalan di atas air. Setan apa yang datang? Suasana mencekam.


Tenang. Yang disangka setan... rupanya Yesus. Sang Guru. "Jangan takut goyang," begitu pesan Riko, mengutip kata Yesus di kisah itu.


JANGAN TAKUT. Iya jangan takut goyang. Orang yang tidak takut goyang untuk mengikuti Tuhan, pasti tidak akan takut juga saat badai datang menggoyang hidupnya.

Ada 3 tahapan keadaan yang kita lalui, saat kita memutuskan untuk mengikuti Tuhan.

1. Honeymoon.

2. Painful Struggle.

3. Grace.


Kebanyakan kita biasa terlalu lama terlena dengan honeymoon, sehingga kaget dan kagok saat masa painful struggle, lalu biasa memilih untuk berhenti. Bye Tuhan. Kita sering berpikir bahwa mengikuti Tuhan maka hidup kita akan penuh dengan sukacita, penuh kedamaian, pokoknya setiap hari seperti suasana natal. Bukan, bukan itu. Kita keliru.


Coba lihat. Pikir-pikir lagi, kapan sih kita memutuskan untuk mengikuti Tuhan. Dengan serius. Dengan sepenuh hati. Tapi, sekarang hati kita kosong. Malah hidup kita yang penuh masalah, penuh goncangan.




Jangan takut. Jika kondisi itu yang terjadi, artinya kita sedang ON TRACK. Sedang di jalan-Nya Tuhan.

Kok bisa?


Begini. Jika sedikit lebih teliti mencermati bacaan dari Injil di atas, kita akan menemukan bahwa: memang Yesus "sengaja" mengirimkan para murid terlebih dahulu ke tempat yang gelap, sendiri di tengah badai, lalu Yesus datang menyelamatkan. Sehingga secara nyata mereka semua bisa mengenal siapa itu Yesus, guru mereka itu. Mereka mengalami Yesus.

Pun sama dengan kita. Kita terkadang dikirim Tuhan kepada situasi yang penuh badai, penuh kegelapan, penuh goncangan, berada pada situasi yang unknown. Di mana nih gue? Agar kita bisa sepenuhnya bergantung pada Tuhan. Mengalami kemurahan dan berkat dari Tuhan.


Jujur, kita tidak akan sungguh-sungguh kenal siapa itu Yesus, jika kita mengenal Yesus hanya berdasarkan cerita orang. Hanya melalui khotbah. Tanpa pernah mengalami Yesus secara pribadi, berjalan bersama Yesus dalam saat-saat gelap dalam hidup kita. Dan Yesus datang menenangkan. Patut dipertanyakan, sedang on track kah kita?


Lawannya iman itu adalah ketidakpastian.

Bukan kebimbangan. Karena jika semuanya pasti-pasti saja, untuk apa bergantung pada Tuhan. Karena tempat di mana kita berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, kita bisa memanggil Tuhan, dan bisa memilih untuk stay. Banyak dari kita tidak sampai mengalami Yesus secara pribadi, karena memilih say goodbye saat datangnya badai dalam hidup. Jika maunya begitu, kita akan sering melewatkan kesempatan dalam hidup, agar bisa sepenuhnya bergantung kepada Tuhan.


Mari... Coba melepas arah kemudi kompas hidup kita. Karena jika semuanya harus bisa dikontrol oleh "aku", semuanya serba pasti, maka kita tidak mau bergantung pada Tuhan. Jadi sekarang lebih pilih mengontrol hidupmu atau dikontrol oleh Yesus?


Eh, tapi kamu bisa pilih mengontrol. Iya, kontrol jadwal weekend, Sabtu pertamamu. Yang di awal bulan itu. Keluar dari perahu kesibukanmu, untuk join #inspirejakarta, kita tunggu kamu di sana. Sekalian update pengetahuan iman Katolik-mu, dan temukan lebih banyak sohib seiman.

4 tampilan
DOMUS CORDIS

Hubungi  kami untuk ikut menginspirasi orang muda

demi dunia yang lebih baik di dalam Kristus.

Email: info@domuscordis.com

Phone: +62 21 52964237

FB: @domuscordis
IG: @domuscordis

© 2020 by Domus Cordis |  Terms of Use  |   Privacy Policy