• domuscordis

Testimoni Cordisian: Entrust


Ini adalah kisah yang terjadi di sel kami. Yang nyata kisahnya. Bukan fiktif. Apalagi fake. Yang di tahun entrust: kita di suruh belajar entrust. Memercayakan.


Lalu datanglah corona, dan kian menambah keseruan perjalanan entrust kita. Mencampur-adukkan semua rencana dan resolusi yang telah dibuat rapi di tahun sebelumnya.


Dari sekian banyak pergumulan dalam sel, kisahnya si Aoron ini unik. Aoron seolah mempertontonkan praktek entrust: kepada saya, dan kepada teman-teman sel lainnya.


Mungkin sekarang saya bisa cerita se-mengalir ini, walau saat Aoron menjalaninya, itu tersendat-sendat hampir kehabisan bensin iman.


Kedatangan corona ke Indonesia, yang awalnya di ragukan, karena dibilang alasan: "biaya izin masuknya mahal"-- toh akhirnya datang juga.


Kita kalang kabut: banyak tenaga kerja di PHK. Gaji karyawan dipotong. Demi efisiensi.


Aoron kena yang pertama. Saya dan beberapa teman sel kena yang kedua. Bisa dibilang kita masih syukur sih: cuma dipotong gaji. Gak sampai di PHK. Walau dalam hati sebenarnya tidak benar-benar ikhlas.


Kehilangan pekerjaan itu tidak enak. Sangat tidak enak. Apalagi tiap hari ada kebutuhan. Belum kalau ada tanggungan. Saat kek gitu: mau kasur seempuk apapun, tidur gak bisa lelap. Saya pernah mengalaminya.


Makanya saat Aoron alami itu, walau saya tidak pernah bertemu Aoron. Saya bisa bayangkan, bagaimana perasaan dia. Struggle-nya dia.


Kita coba bantu, setiap ada loker kita bantu share. Ada loker. Kita kasih lagi. Pokoknya kita kasih dia. Dibantu sama dua wakil gembala angkatan Caritas lainnya, Mike dan Evans.


Masih buntu.


Sekian kali mencoba: satu ketika, ada panggilan interview. Wah bagus ni. Pikir kita.


Kebetulan Aufa, teman sel kita, itu kerjanya di perusahaan rekrutmen . Kita minta bantuan Aufa. Gimana strategi agar bisa lolos test interview. Aufa dengan senang hati bantu.


Oke. Majulah test ni si Aoron. Kita bantu mendoakan.


Setelah test...


Satu minggu berlalu -- gak ada kabar dari interviewer.


Dua minggu berlalu -- masih gak ada kabar juga.


Wah berarti gagal ni.


Tapi si Aoron kalau komsel, semangat terus. Senyum terus. Malah jadi pancingan buat isengin teman-teman lain. Tidak ada raut wajah sedih. Walau tidak tau hatinya.


Pun komitmen doa dan komitmen lainnya gak bolong-bolong amattt.


Kalau diajak chat, tidak ada keluhan. Tapi dia cerita seperti apa keadaannya. Memang lagi sulit. Sulit sekali.


Sudah sekian bulan. Hampir satu semester, belum nemu juga kerjaan.


Sampailah pada sel tanggal 24 September. Yang materi: Trying to be strong-- Yang kita disuruh nonton video youtube. Rasanya itu materi sel sesuai sama struggle-nya kita-kita.


Materi refleksinya unik. Yang nomor 3. Minta 1 permintaan kepada Yesus dan pasti dikabulkan.


Saya juga berefleksi.


Saya jujur : Wah Yesus -- ini jangan kan satu, saat ada kata pasti dikabulkan -- maka mulailah muncul buanyyaaakkk sekali permintaan. Malah saya jadi bingung sendiri. Sebenarnya mana yang mau saya minta.


Kok rasanya, semua tiba-tiba mendadak untuk diminta kepada Yesus.


Oke ketemu.

Saya tahu. Apa yang harus saya minta.


Saat sel, semua sharing. Saya minta giliran saya di akhir saja.


Semua teman-teman datang dengan sharing permintaannya masing-masing. Mulai dari ketakutan akan corona hingga minta keamanan finansial.


🛐Giliran saya, saya sampaikan bahwa: saya ingin minta supaya Aoron diterima kerja. Atau dapat kerja lagi.


Jadi teman-teman, kiranya kita sama-sama doakan Aoron.


Saya pernah nganggur selama enam bulan. Apply lamaran kerjaan -- tidak ada yang berhasil. Gagal mulu.


Eh sekalinya dapat : malah tepat di hari ulang tahun saya. Magic. Puji Tuhan.


Oke. Jadi kita semua kompak doakan Aoron.


Besoknya 25 September 2020, jam 8 malam -- 24 jam kemudian. Aoron chat di grup kami.


Kalau dia sudah dapat kerja.


Whatttt.... 😮


Kita memang senang, kalau doa kita dikabulkan.


Tapi secepat dalam waktu cuma 24 jam -- permintaan langsung dikabulkan itu malah berasa jadi horor. Berasa kayak -- lagi naik kereta api Surabaya-Jakarta (Pulang-Pergi). Tapi ini kereta iman.


Saya sendiri membalas chat Aoron di grup: saya merinding ron. Puji Tuhan. Dan disambut ucapan selamat dari teman-teman lainnya.


Akhirnya saya japri dia -- : "Ron kok bisa secepat itu?


Dia jawab kalau 2 hari sebelum sel, dia sudah diinterview.


Dan saat sel, waktu didoakan, dia berasa getar, lalu semacam ada suara yang bilang: Kamu lihat kan, walau kamu lagi susah, kamu gak sendiri. Teman-temanmu mendoakanmu. Dan doa mereka itu akan dikabulkan.


Dan benar saja dikabulkan Tuhan. Praise the Lord.


Saya sendiri malah belajar dari Aoron soal entrust. Belajar percaya dan tidak mengeluh meski dalam situasi yang tidak enak.


Semoga Aoron terus belajar entrust. Dan semoga meneguhkan kita semua yah.😊


Thank you🥳


Penulis: Ali - Angkatan Caritas

DOMUS CORDIS

Hubungi  kami untuk ikut menginspirasi orang muda

demi dunia yang lebih baik di dalam Kristus.

Email: info@domuscordis.com

Phone: +62 21 52964237

FB: @domuscordis
IG: @domuscordis

© 2020 by Domus Cordis |  Terms of Use  |   Privacy Policy