• domuscordis

Testimoni DC Annual Online Retreat 2020

Cerita Melsa - DC Mission Semarang


Awalnya saya yakin banget merasa, "Ah, pasti kurang seru!"


Sel DC Mission Semarang sebelum pandemi covid-19 terjadi

Pada tahun-tahun sebelumnya, suasana retret tahunan sangatlah terasa karena saya juga ikut sibuk di kepanitiaan, dan hati senang banget bisa bertemu teman-teman Cordisian secara langsung, di tempat dan suasana yang berbeda. Tetapi tahun ini terasa biasa saja, dan saya bahkan tidak ada persiapan sama sekali untuk mengikuti retret kali ini.


Namun di hari H, ketika mulai masuk ruang virtual via Zoom, dan melihat kehadiran teman-teman walaupun secara online, tiba-tiba ada perasaan excited sekali yang muncul. Apalagi ketika paket ARkit (gift Annual Retreat) datang, membaca surat dari Formation, dan melihat misi yang diberikan, perasaan excited semakin kuat. Rasanya "disambut dan dihargai" sama seperti saat retret tahunan secara offline. Kegiatan belum dimulai saja, mata sudah berkaca-kaca karena merasa kangen sekali dengan segala dinamika di DC. Saya sudah 2 tahun kembali ke Semarang, tapi tetep belum bisa move on dari DC.. hehehe.

Ketika mulai praise and worship dan masuk ke sesi-sesinya, saya sungguh bersyukur karena tetap bisa menjadi Cordisian. Saya selalu suka praise and worship dan materi yang Formation berikan. Meskipun sudah banyak mendapatkan berbagai bahan pertemuan sel dan Inspire, tapi tema Entrust tahun ini memang sangat mengena di saya dengan segala keadaan yang saya jalani di sini.



Kak Yurika lagi asyik bawain materi buat semua anggota komunitas DC, alias Cordisian.

Setiap kali mendengarkan materi dan sharing dari teman-teman, saya berkali-kali merasa dikuatkan dan diteguhkan bahwa saya berada di jalan yang benar. Tuhan selalu ada untuk saya. Seringkali ketika saya merasa lelah dengan hidup yang sepertinya "nggak jelas", saya malah semakin menjauh dari Tuhan karena putus asa. Namun ketika mendengarkan pengajaran dari ko Riko, kak Tano dan kak Yurika, saya diingatkan lagi bahwa justru disaat seperti itulah, saya harus lebih mendekat lagi padaNya dan tidak sibuk dengan pikiran sendiri. Lebih berani untuk memercayakan hidup saya pada Sang Pemberi hidup itu sendiri.


Walaupun harus banyak sabar karena menyesuaikan dengan ramainya situasi di rumah, namun keseluruhan retret tahunan ini terasa sempurna, tetap seru, menyenangkan, dan tetap menguatkan.


Terima kasih banyak untuk Formation dan semua panitia yang bekerja begitu keras hingga retret komunitas tahun ini boleh terlaksana dengan luar biasa. Tuhan memberkati. :)


Cerita Aufa - angkatan Caritas


Ini kali pertamaku ikut retret tahunan DC, walaupun ini tahun keduaku ada di komunitas ini. Jadi, awalnya, aku cukup excited mengikuti retret.


Sayangnya (atau malah beruntungnya?), mendekati waktu AR, terjadi suatu hal yang menyebabkan aku akhirnya datang ke retret ini dengan masalah yang cukup besar. Aku merasa tidak bisa optimal dalam menyiapkan diri ikut retret ini karena masalah itu.

Kalau diceritakan secara singkat, intinya aku mempertanyakan misi dalam hidupku. Aku merasa hidupku tidak bermakna karena merasa tidak punya misi besar seperti teman-teman yang lain. Aku merasa tidak berguna dan tidak punya arah dan tujuan dalam hidupku.

Di setiap sesi, isi refleksiku benar-benar menunjukkan kalau aku bingung. Makin refleksi, makin bingung jadinya. Aku tetap merasa bahwa misi yang aku rasa Tuhan inginkan dariku adalah misi yang tidak penting. Aku merasa orang lain juga bisa melakukan itu, bahkan lebih baik dariku.


Tapi, akhirnya aku tahu bahwa ini bukan soal misi yang penting atau tidak penting, tapi soal Tuhan sendiri. Sesi ketiga adalah yang paling menampar aku tentang hal ini. Misi itu adalah apa yang ada di hadapanmu saat ini. Tuhan menempatkan aku di sini, di waktu ini, karena memang itu misi Tuhan untukku saat ini. Tokoh utamanya adalah Tuhan, bukan aku, dan itu saja cukup. Akhirnya, air mata keluar juga.

Di hari kedua, akhirnya aku menangis bombay juga sih, di sesi refleksi (yang makin bombay di sesi doa, tentu saja). Aku merasa Tuhan meyakinkan aku bahwa this is right. This is the right thing to do. Bukan misi kecil atau apapun, yang terpenting adalah Tuhan mau aku yang melakukan hal ini, and He got me. “I got you”. Itu yang Tuhan katakan berulang-ulang sepanjang retret ini. Tentu saja, aku memilih untuk percaya.


He always changes ‘unfortunately’ to ‘thankfully’, dan aku bersyukur bisa mengikuti retret tahun ini, lengkap dengan luka-luka yang kubawa.



87 tampilan
DOMUS CORDIS

Hubungi  kami untuk ikut menginspirasi orang muda

demi dunia yang lebih baik di dalam Kristus.

Email: info@domuscordis.com

Phone: +62 21 52964237

FB: @domuscordis
IG: @domuscordis

© 2020 by Domus Cordis |  Terms of Use  |   Privacy Policy