Pengalaman Perdana Pertukaran Pelajar Teen Cordisian

"Apapun yang kamu lakukan untuk meregangkan dirimu keluar dari zona nyaman, pada akhirnya akan memungkinkanmu mengambil risiko yang lebih besar dan tumbuh." Leslie Evans

Zona nyaman mungkin adalah salah satu kata yang terlintas setelah saya terpilih bergabung dalam acara perdana Pertukaran Pelajar Teen Cordisian (TC). Apakah saya akan baik-baik saja jika tidak berada di rumah? Bukankah lebih baik saya di rumah menonton serial drama dibanding pergi ke tempat yang terpencil tanpa sinyal? Apakah saya akan pandai beradaptasi pada lingkungannya?


Tak kenal maka tak sayang, yuk kenalan dulu... Halo semuaaa… saya Nathania Devina salah satu dari tiga anak yang terpilih dari TC Keuskupan Agung Jakarta untuk mengikuti pertukaran pelajar pertama kalinya. Saya merasa senang sekaligus ragu untuk mengikuti kegiatan ini. Ragu yang dirasakan hilang ketika saya sampai tujuan di mana kami semua akan menjalani aktivitas selama 4 hari di paroki Promasan, Jawa Tengah.


Kami membawa berbagai kelengkapan pakaian, minuman, snack, serta lainnya yang sudah tertata rapi di dalam tas untuk beberapa hari kedepannya. Setelah sampai di titik pertemuan yang dijanjikan, kami semua menunggu kedatangan teman-teman kami yang berasal dari Promasan sampai di Jakarta. Setelah menunggu beberapa jam, kami menyambut teman-teman dari promasan dengan hangat lalu makan bersama dan berdoa bersama sebelum akhirnya kami yang berangkat menuju Promasan.


Pak Toto dan Pak Unggul, mereka yang setia mengendarai dan tetap terjaga selama kami mengantuk dan tertidur di dalam mobil. Kami pun sampai di Sendangsono sekitar pukul 05.00 pagi, lalu menuju rumah Bu Lilis untuk beristirahat dan menyantap sarapan.


Saya dengan April (salah satu anak TC) tinggal di rumah keluarga Pak Darno bersama Monica Damai yang adalaah salah satu anak TC dari Keuskupan Agung Semarang. Selama di sana, kami mengikuti berbagai kegiatan. Membatik adalah pengalaman baru dalam jadwal yang telah dibuat. Ada 2 orang yang membantu kami dalam pembatikan ini, yaitu Kak Didi dan Kak Rendra. Kak Didi memberi pengetahuan terlebih dahulu tentang batik, seperti corak batik, warna yang memiliki kesan atau arti, lalu alat bahan untuk membatik, dan cara membatik.


Pengalaman baru di hari kedua adalah wisata ke Borobudur, Bukit Rhema (yang ramai disebut Gereja Ayam), dan berziarah ke makam Romo Prennthaler, SJ yang juga dikenal sebagai Romo Kesejahteraan Semarang. Setelah itu kami pulang sekaligus menepi ke Goa Maria Sendangsono dan pulang ke rumah masing-masing.


Sambutan rasa sejuk alam membuat kami terbangun lagi dan menjalani hari ke 3. Hari ini hari yang berbeda dari sebelumnya. Kami bersama keluarga pak Darno pergi mengikuti Misa hari Minggu di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan. Jam 11 kami kumpul di SMP Promasan. Di sini kami diajak menghias tempat sampah organik dan non organik, serta membuat lilin dari lilin-lilin bekas yang telah dicampur dengan minyak jelantah.


Matahari menampakan diri tanda hari akan dimulai. Mengawali pagi dengan cuci muka sikat gigi dan mandi, lalu menyantap sarapan yang disediakan. Ya, ini adalah hari terakhir saya berada dalam acara ini, dan akan pulang ke Jakarta pada malam harinya. Hari spesial dan tepat waktunya untuk saya mengeksplorasi lingkungan sekitar dengan berjalan kaki sendiri. Pergi ke tempat tujuan yaitu SMPK Kemasyarakatan Promasan, berpapasan dengan penduduk desa, bercengkrama, saling menyapa menjadi keindahan yang jarang saya temui di Jakarta.


Tiba di sekolah, saya langsung menuju titik kumpul kami, yaitu perpustakaan dan menunggu beberapa teman datang. Aktivitas dimulai dengan mendengarkan cerita kak Budi tentang awal dari perpustakaan yang dibangun dan dirawat sedemikian rupa. Setelah mendengarkan cerita kak Budi, Mba Dinda menjelaskan apa yang harus kita lakukan yaitu menyampul buku dan menandai buku dengan label yang sudah diberi keterangan.


Setelah berkutat dengan buku-buku, kami pergi berjalan menuju tempat kami melakukan aktivitas kedua yaitu bermain Gamelan (Krawitan). Pertama kalinya saya melihat, mendengar bahkan memainkan alat-alat musik ini. Seru! Dalam pikiran saya terlintas pengetahuan seni budaya saya bertambah. Pak Simon adalah yang bertugas menerangkan serta mengajari kami bermain.

Setelah itu kami bubar, pulang dan membereskan apa yang akan kami bawa ke Jakarta. Terima kasih bagi semua yang berpartisipasi, mulai dari guru SMPK Kemasyarakatan Promasan, Kak Budi, Kak Fenny, Kak Moris, serta kakak pendamping lainnya, para orang tua (keluarga) yang memberikan kami tempat untuk beristirahat dan makan, semua anak-anak Teen Cordisian Keuskupan Agung Semarang, dan Suster.


Penulis: Devina (TC Jakarta)

Editor: Anastasia Avi (DC Jakarta - Donkey)







1 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua