Dari Tan Malaka sampai Frassati: Belajar Kritis & Hidup dalam Iman
- Domus Cordis
- 5 Sep 2025
- 2 menit membaca

Orang muda Katolik hidup di lanskap sekuler: banyak nilai universal yang baik (keadilan, solidaritas), tapi juga relativisme yang bikin “benar–salah” terasa cair. Gereja mengingatkan: kebebasan bukan sekadar “boleh apa saja,” melainkan kemampuan memilih yang benar. Santo Yohanes Paulus II menegaskan, “Freedom consists not in doing what we like, but in having the right to do what we ought.” Pernyataan ini ia sampaikan di Baltimore (1995), menekankan bahwa kebenaran adalah fondasi kebebasan.

Di sisi lain, warisan intelektual Indonesia mengajak kita berpikir jernih. Tan Malaka (seorang filsuf, penulis, dan pahlawan nasional Indonesia) melalui Madilog mendorong disiplin berpikir materialis–dialektis–logis untuk membebaskan bangsa dari cara pikir yang kabur—singkatnya, “ya itu ya, tidak itu tidak,” dan argumen mesti ditopang data serta nalar. Ini bukan bahasa iman, tapi alat berguna agar kita menimbang informasi dengan kritis sebelum mengambil sikap. Sedikit penjelasan mengenai materialis–dialektis–logis:
materialis adalah cara berpikir yang berangkat dari kenyataan nyata (fakta, data, pengalaman indera),
dialektis adalah cara berpikir yang sadar bahwa hidup itu selalu bergerak dan berubah karena adanya benturan gagasan,
logis adalah cara berpikir yang teratur, masuk akal, dan konsisten.

Teladan Kristiani melengkapi nalar itu: Pier Giorgio Frassati menunjukkan bagaimana doa, Ekaristi, dan pelayanan pada miskin menyatu dengan keberanian sosial. Ia disebut “Man of the Beatitudes”—gambaran orang muda Katolik yang tangguh sekaligus welas asih. USCCB
Ketika Indonesia diguncang demo, tuntutan publik, dan kasus korupsi, orang muda Katolik dan para pendamping dipanggil hadir jernih dalam logika, teguh dalam moral, dan hangat dalam kasih: saring informasi, tolak hoaks, bela kejujuran, doakan bangsa, dan pilih aksi kecil yang konsisten—itulah cara menjadi garam–terang yang efektif.
Bagi setiap orang muda Katolik serta pendamping, yuk kita lakukan:
Cek – Verifikasi satu klaim viral minggu ini (lihat sumber primer, data).
Doa – Ambil waktu berdoa Rosario bagi bangsa.
Aksi – Pilih satu kebiasaan jujur & adil (misalnya tidak berbohong, tidak melempar tanggung jawab ke orang lain) dan jalankan 7 hari berturut-turut.
Bagikan – Sharing singkat ke teman/komunitas: apa yang kamu pelajari dan langkah nyatamu.
Iman menyalakan hati; logika menajamkan pikiran.
Keduanya membuat sumbangsihmu bagi Indonesia lebih bersih, bernas, dan bermakna.




Komentar