top of page

Februari, Kasih Sayang, dan Rumah bagi yang Merasa Sendiri

Februari sering disebut bulan kasih sayang. Banyak orang merayakannya dengan hal-hal yang terlihat indah dari luar. Namun di balik itu, tidak sedikit orang muda—khususnya Gen Z—yang justru bergumul dengan rasa sendiri di tengah keramaian.


Berjalan sendiri
Kota yang ramai, namun terasa sendiri.

Ada yang hadir di banyak tempat, tapi tidak sungguh merasa pulang. Ada yang tertawa, tapi hatinya lelah. Ada yang aktif, tapi diam-diam bertanya: “Adakah tempat untuk aku menjadi diri sendiri?”


Tuhan tahu bahwa hati manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendirian.

“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.” (Kejadian 2:18)

Karena itu, Tuhan menghadirkan persahabatan dan komunitas—bukan sekadar sebagai aktivitas, tetapi sebagai rumah. Seperti Yesus yang memanggil murid-murid-Nya untuk tinggal bersama, makan bersama, dan bertumbuh bersama, kasih Allah menjadi nyata dalam relasi yang sederhana dan setia.


Komunitas adalah kumpulan orang yang saling berbagi dan bertumbuh bersama.
“Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)

Komunitas bukan tempat orang-orang yang sudah selesai, melainkan ruang bagi hati yang mau dibentuk. Di sanalah kita belajar saling menemani, saling menanggung, dan saling mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendirian.


Tantangan Pendamping OMK: Menjadi Rumah bagi yang Merasa Sendiri


Pendampingan bukan pertama-tama tentang program, tetapi tentang kehadiran. Banyak OMK tidak kekurangan aktivitas, tetapi kekurangan seseorang yang mau tinggal bersama mereka dalam proses.


Kehadiran pendamping tentu sangat diperlukan.

Beberapa sikap yang perlu dijaga dalam pendampingan:

  1. Hadir dengan hati yang mendengar

    Jangan terburu memberi jawaban. Biarkan OMK merasa aman untuk jujur dan membuka diri.

  2. Melihat pribadi, bukan peran

    OMK bukan sekadar peserta. Mereka adalah pribadi yang sedang mencari arah dan makna.

  3. Menciptakan ruang aman untuk rapuh

    Komunitas yang sehat adalah tempat di mana air mata tidak dianggap lemah dan pertanyaan tidak dianggap kurang iman.

  4. Menemani, bukan menarik

    Seperti Yesus yang berjalan bersama murid Emaus, pendamping dipanggil untuk berjalan seirama—bukan mendahului.

  5. Mendoakan dengan menyebut nama

    Doa yang personal menegaskan bahwa mereka dikenal dan diperjuangkan.

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu.” (Amsal 17:17)

Pendamping yang setia adalah mereka yang membantu orang muda menemukan bahwa Tuhan sedang bekerja di dalam hati mereka, bahkan saat mereka merasa sendirian.


🤍 Mari menjadi rumah bagi hati yang sedang mencari pulang.

 
 
 

Komentar


Hubungi Kami

DOMUS CORDIS (DC)
 

adalah komunitas yang menginspirasi orang muda untuk mengubah dunia di dalam Kristus. Komunitas DC berdomisili di Jakarta, Semarang dan Sydney.

 

DC Jakarta tergabung dalam Pertemuan Mitra Kategorial (Pemikat) di Keuskupan Agung Jakarta, dengan Moderator Romo Stevanus Harry Yudanto Pr. 

Domus Cordis di berbagai lokasi tetap berada di bawah otoritas Gereja Katolik atau keuskupan setempat. 

Hubungi kami untuk ikut menginspirasi orang muda

demi dunia yang lebih baik di dalam Kristus.

Tujuan: Required

Terima kasih.

ALAMAT

Alamat:

Yayasan Domus Cordis

Wisma Argo Manunggal

Jl. Let. Jend. Gatot Soebroto Kav. 22, 

Jakarta 12930

Indonesia

WHATSAPP:

+62 812 1997 7328

DC Jakarta

DC Semarang

+62 815 1120 8000

EMAIL

bottom of page