Februari, Kasih Sayang, dan Rumah bagi yang Merasa Sendiri
- Domus Cordis
- 6 Feb
- 2 menit membaca
Februari sering disebut bulan kasih sayang. Banyak orang merayakannya dengan hal-hal yang terlihat indah dari luar. Namun di balik itu, tidak sedikit orang muda—khususnya Gen Z—yang justru bergumul dengan rasa sendiri di tengah keramaian.

Ada yang hadir di banyak tempat, tapi tidak sungguh merasa pulang. Ada yang tertawa, tapi hatinya lelah. Ada yang aktif, tapi diam-diam bertanya: “Adakah tempat untuk aku menjadi diri sendiri?”
Tuhan tahu bahwa hati manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendirian.
“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.” (Kejadian 2:18)
Karena itu, Tuhan menghadirkan persahabatan dan komunitas—bukan sekadar sebagai aktivitas, tetapi sebagai rumah. Seperti Yesus yang memanggil murid-murid-Nya untuk tinggal bersama, makan bersama, dan bertumbuh bersama, kasih Allah menjadi nyata dalam relasi yang sederhana dan setia.

“Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)
Komunitas bukan tempat orang-orang yang sudah selesai, melainkan ruang bagi hati yang mau dibentuk. Di sanalah kita belajar saling menemani, saling menanggung, dan saling mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendirian.
Tantangan Pendamping OMK: Menjadi Rumah bagi yang Merasa Sendiri
Pendampingan bukan pertama-tama tentang program, tetapi tentang kehadiran. Banyak OMK tidak kekurangan aktivitas, tetapi kekurangan seseorang yang mau tinggal bersama mereka dalam proses.

Beberapa sikap yang perlu dijaga dalam pendampingan:
Hadir dengan hati yang mendengar
Jangan terburu memberi jawaban. Biarkan OMK merasa aman untuk jujur dan membuka diri.
Melihat pribadi, bukan peran
OMK bukan sekadar peserta. Mereka adalah pribadi yang sedang mencari arah dan makna.
Menciptakan ruang aman untuk rapuh
Komunitas yang sehat adalah tempat di mana air mata tidak dianggap lemah dan pertanyaan tidak dianggap kurang iman.
Menemani, bukan menarik
Seperti Yesus yang berjalan bersama murid Emaus, pendamping dipanggil untuk berjalan seirama—bukan mendahului.
Mendoakan dengan menyebut nama
Doa yang personal menegaskan bahwa mereka dikenal dan diperjuangkan.
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu.” (Amsal 17:17)
Pendamping yang setia adalah mereka yang membantu orang muda menemukan bahwa Tuhan sedang bekerja di dalam hati mereka, bahkan saat mereka merasa sendirian.
🤍 Mari menjadi rumah bagi hati yang sedang mencari pulang.




Komentar