DC Camp 2026: Berhenti Menyembah Luka, Mulai Menyambut Hati-Nya
Bagaimana kalau Kerajaan Allah bukan pertama-tama tentang tempat yang kita tuju, tetapi tentang hati yang kita bawa? Pertanyaan itu mungkin menjadi salah satu cara paling sederhana untuk memahami perjalanan DC Camp 2026.

Tahun ini, Domus Cordis mengambil langkah baru. Annual Retreat tidak disebut sebagai retret, melainkan Domus Cordis Camp—DC Camp. Bukan sekadar berganti nama, tetapi sebuah ajakan untuk mengalami kebersamaan, pembentukan, dan perjumpaan dengan Tuhan secara lebih nyata dan otentik. Selama tiga hari, 14–16 Agustus 2026, Cordisian dari Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Papua, Kalimantan Utara, hingga Malaysia berkumpul di The Highland Park Resort, Bogor.
Datang sebagai Murid, Bukan Sekadar Tamu
Hari pertama diisi dengan registrasi, makan malam, dan fellowship yang penuh tawa. Setiap kelompok menunjukkan kreativitas mereka lewat tarian dan lagu Setinggi-tingginya Langit Remix.
Seru? Jelas.
Tapi DC Camp tidak berhenti di keseruan.
Hari kedua dimulai dengan Misa Pembukaan yang dipimpin oleh Romo Aris Sihotang. Salah satu pesannya menantang:
“Apakah saat saya altruis, saya juga egois?”
Sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi diam-diam menusuk.
Sebab mengikuti Tuhan bukan hanya soal hadir dalam kegiatan rohani. Bukan hanya datang, makan, lalu pulang.
“Kalau kita hanya datang, makan, pulang, mungkin kita bukan murid Tuhan. Hanya tamu.”
Maka DC Camp menjadi ruang untuk bertanya lebih jauh:
Aku sebenarnya hadir sebagai siapa dalam hidup ini?
Belajar dari Lapangan
Setelah sesi pagi, saatnya turun ke lapangan. Matahari Bogor mungkin sedang tidak mau berkompromi. Tapi semangat Cordisian justru semakin panas. Kelompok-kelompok dengan nama kerajaan Nusantara seperti Tidore, Mataram, Tarumanegara, dan lainnya berkompetisi dalam berbagai permainan. Ada yang harus berjalan bersama menggunakan karung, menyusun strategi, sampai membuat kostum prajurit dari koran, bubble wrap, isolasi, dan apa pun yang bisa ditemukan. Tapi di balik semua tawa dan kompetisi, ada satu hal yang sedang dilatih: bagaimana setiap orang mengambil bagian.
Karena menjadi murid Kristus juga berarti berani bergerak, bekerja sama, mengambil tanggung jawab, dan tidak hanya menjadi penonton dalam kehidupan.
Lalu, Kita Diajak Berhadapan dengan Luka
Jika pagi dan siang dipenuhi energi, malam membawa suasana yang berbeda.
Dalam sesi ketiga, Cordisian diminta menuliskan satu nama. Bukan nama orang yang paling kita sayangi. Tetapi nama seseorang yang pernah menyakiti kita—dan mungkin sampai hari ini, lukanya masih terasa. Satu per satu nama ditempelkan pada sebuah papan.
Kemudian papan itu dibuka.
Di balik semua nama itu ternyata ada gambar Hati Mahakudus Yesus.
Pesannya sederhana, tetapi mungkin menjadi salah satu pesan paling sulit untuk diterima:
“Tuhan sayang kita semua, tapi Tuhan juga sayang sama orang-orang yang menyakiti kita. Mereka juga ada di hati Tuhan.”

Tuhan tidak meminta kita berpura-pura bahwa kita tidak terluka. Ia justru mengajak kita membawa luka itu kepada-Nya, dan perlahan belajar melepaskan. Bukan karena luka itu tidak berarti.Tetapi karena kita tidak mau hidup selamanya di dalam luka itu.
Di sinilah tema DC Camp 2026 terasa semakin nyata:
“Thy Kingdom Come: Thy Heart.”
Ketika Kerajaan Allah datang, hati kita diajak untuk berubah.
Bukan lagi terus-menerus menyembah luka.
Bukan lagi hidup dari dendam.
Bukan lagi hanya menjadi pelengkap.
Tetapi belajar memiliki hati yang mampu mencintai, hadir, bertanggung jawab, mengampuni, dan mengambil bagian.
Pulang dengan Hati yang Baru
DC Camp kemudian ditutup dengan Misa Perutusan yang dipimpin oleh Romo Harry Yudanto. Dalam homilinya, ia membagikan sebuah puisi tentang cinta:
“Cinta itu bukan yang berdagang balas chat 24 jam atau bilang ‘I love you, aku kangen’, tapi yang mengingatkan bahwa kamu berharga dan hadir saat kamu tidak baik-baik saja.”
Mungkin inilah wajah kasih Tuhan yang ingin dibawa pulang oleh setiap Cordisian.
Tuhan yang hadir.
Tuhan yang memeluk.
Tuhan yang mengingatkan:
“Kamu berharga.”
Maka DC Camp 2026 bukan tentang tiga hari dua malam di Bogor.
Ini tentang apa yang terjadi setelah kita pulang. Apakah kita masih menjadi orang yang sama? Atau ada sesuatu dalam hati kita yang mulai berubah? Sebab pada akhirnya, Thy Kingdom Come bukan hanya doa agar Kerajaan Allah datang.
Ia juga merupakan undangan: “Tuhan, biarlah hati-Mu tinggal dalam hatiku.”
Dan mungkin, Kerajaan Allah mulai hadir bukan ketika dunia di sekitar kita berubah.
Tetapi ketika hati kita mulai menyerupai hati-Nya.
Penulis: Elva - DC Jakarta
Editor: Tasia - DC Jakarta




하루 동안 쌓인 피로를 풀기 위해 무리하게 외출할 필요 없이 편안한 공간에서 관리를 받을 수 있어 좋았습니다. 출장마사지 시간과 장소를 효율적으로 활용할 수 있고, 어깨나 허리처럼 자주 긴장되는 부위를 편안하게 관리하는 데 도움이 되어 일상적인 휴식 방법으로 괜찮았습니다.
온라인에서 소규모 결제가 필요한 상황에 여러 선택지를 갖추고 있으면 이용 과정이 한층 편리해집니다. 소액결제 간단한 인증과 결제 절차를 활용할 수 있다는 장점이 있지만, 자신의 소비 계획을 고려해 필요한 범위에서만 이용하고 결제 내역을 확인하는 것이 좋습니다.