top of page

Lost & Found: Saat Tuhan Menemukan Kita di Tengah Kebingungan

11 Jul
3 menit membaca

Sabtu, 25 April 2026, Domus Cordis Center dipenuhi oleh orang-orang muda yang datang dengan berbagai cerita. Ada yang datang karena penasaran, ada yang diajak teman, ada pula yang sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang sudah lama berputar di dalam hati.


Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat dan penuh tuntutan, Lost & Found hadir bukan sekadar sebagai tema sebuah rekoleksi. Ia menjadi sebuah pertanyaan yang begitu dekat dengan hidup banyak orang muda:



"Tuhan, apakah Engkau sungguh memanggilku? Dan kalau iya, ke mana?"

Selama sehari penuh, peserta diajak menyelami perjalanan hidup Musa. Bukan sekadar mendengarkan kisahnya, tetapi melihat diri mereka sendiri di dalam cerita itu. Musa pernah memiliki segalanya. Ia hidup sebagai seorang pangeran Mesir. Namun dalam sekejap, semuanya hilang. Ia melarikan diri ke Midian dan menjalani hidup sederhana sebagai seorang gembala selama empat puluh tahun.


Empat puluh tahun adalah waktu yang sangat panjang. Mungkin cukup lama untuk merasa bahwa mimpi sudah berakhir. Cukup lama untuk mengira Tuhan sudah melupakan kita.

Namun justru di sanalah kisah Musa berubah. Kitab Keluaran mencatat, "Suatu kali ia menggiring domba kambing itu melewati padang gurun, sampai ia tiba di gunung Allah, yakni gunung Horeb." Musa tidak sedang mencari Tuhan. Ia hanya sedang menjalani pekerjaannya seperti hari-hari biasa.


Tetapi Tuhan menemukannya lebih dulu.



Dari titik itulah peserta diajak menyadari bahwa sering kali Tuhan bekerja dalam cara yang tidak kita duga. Bahkan ketika hidup terasa biasa, sepi, atau penuh kehilangan, Tuhan tidak pernah berhenti mempersiapkan sesuatu yang lebih besar daripada yang mampu kita bayangkan.


Perjalanan berikutnya membawa peserta pada pertanyaan yang lebih dalam.

Apa yang masih kita genggam terlalu erat?

Tuhan tidak memanggil Musa karena kemampuan atau pengalamannya. Ia memanggil Musa dengan menyebut namanya. Lalu Ia meminta Musa untuk percaya.


Di dalam doa dan refleksi, banyak peserta mulai bertanya pada diri sendiri: apakah "tongkat" yang selama ini mereka pegang adalah rasa nyaman, ketakutan, rencana pribadi, atau luka yang membuat mereka sulit melangkah? Tongkat Musa hanyalah tongkat seorang gembala. Sangat sederhana. Namun ketika diserahkan kepada Tuhan, tongkat itulah yang kemudian dipakai untuk melakukan mukjizat, bahkan membelah Laut Merah.

Sering kali Tuhan tidak meminta kita menjadi luar biasa terlebih dahulu. Ia hanya meminta kita berani menyerahkan apa yang kita miliki kepada-Nya.

Puncak rekoleksi bukan terjadi saat sesi materi berlangsung, melainkan dalam keheningan doa pribadi. Satu per satu peserta didoakan. Dalam keheningan itu, banyak hati disentuh dengan cara yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.



Perjalanan hari itu kemudian ditutup dengan Perayaan Ekaristi dan Misa Janji Komitmen yang dipimpin oleh Romo Lamma, CICM. Di hadapan altar, mereka yang memilih untuk melangkah lebih jauh berdiri dan mengucapkan janji komitmen. Bersama-sama mereka mendaraskan Doa Rumah Hati sebagai tanda penyerahan diri kepada Tuhan. Di sanalah seluruh perjalanan Lost & Found menemukan maknanya. Sebab setiap panggilan yang lahir dari pergulatan hati membutuhkan tempat untuk bertumbuh—di dalam Kristus, di dalam Gereja, dan di dalam komunitas yang berjalan bersama.


Menariknya, hampir setengah dari peserta adalah orang muda berusia awal hingga pertengahan dua puluhan. Mereka datang membawa pertanyaan yang mungkin juga dimiliki banyak anak muda hari ini: tentang masa depan, pekerjaan, relasi, dan arah hidup.

Dalam Christus Vivit, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa orang muda bukan hanya masa depan Gereja. Mereka adalah Gereja hari ini.


Apa yang terjadi di Domus Cordis Center menjadi gambaran nyata dari pesan tersebut. Di tengah dunia yang sering mengatakan bahwa generasi muda kehilangan arah, justru semakin banyak anak muda yang memilih datang, mencari Tuhan, dan berani menjawab panggilan-Nya. Karena pada akhirnya, Lost & Found bukan hanya tentang menemukan tujuan hidup. Melainkan tentang membiarkan diri ditemukan oleh Tuhan—Pribadi yang sejak awal tidak pernah berhenti mencari kita.


Penulis: Klaudias Vieri - DC Jakarta

Editor: Maria Anastasia - DC Jakarta


 
 
 

7 Komentar


modivoz
6 hari yang lalu

디지털 콘텐츠와 온라인 서비스를 자주 이용한다면 결제 편의성이 중요합니다. 휴대전화를 활용한 간편한 처리 방식이라는 장점이 소액결제 있으며, 무리한 사용을 피하고 정해진 한도 내에서 이용하는 것이 효과적입니다.

Suka

modivoz
28 Sep

빠른 처리와 친절한 안내 덕분에 처음 이용하는 사람도 부담 없이 진행할 수 있었어요. 중간에 관련 설명도 자세해서 믿음이 갔고 전체 과정이 상품권매입 편리했습니다.

Suka

modivoz
27 Sep

바쁜 생활 속에서 몸을 돌볼 시간을 따로 만들기 어려웠는데 원하는 장소에서 관리받을 수 있어 만족했습니다. 이용 후 평소 무거웠던 출장마사지 어깨와 허리 주변을 편안하게 관리할 수 있었습니다. 이동에 필요한 시간을 줄이고 휴식에 집중할 수 있다는 점이 실용적이라 일상적인 자기 관리에도 활용하기 좋았습니다.

Suka

modivoz
27 Sep

외출할 여유가 없는 날에도 편안하게 관리를 받을 수 있다는 점이 마음에 들었습니다. 출장마사지 이용 후 평소 긴장하기 쉬운 어깨와 허리 주변이 한결 부드러워진 느낌이었고, 이동에 필요한 시간을 아낄 수 있어 좋았습니다. 바쁜 직장인이나 집에서 쉬고 싶은 분들에게 활용도가 높은 서비스라고 생각합니다.

Suka

modivoz
26 Sep

몸을 편안하게 관리하면서 동시에 시간을 절약할 수 있다는 점이 좋았습니다. 평택출장마사지 서비스는 별도의 이동 없이 원하는 장소에서 이용할 수 있어 바쁜 직장인에게도 실용적인 휴식 방법이었습니다.

Suka

Hubungi Kami

DOMUS CORDIS (DC)
 

adalah komunitas yang menginspirasi orang muda untuk mengubah dunia di dalam Kristus. Komunitas DC berdomisili di Jakarta, Semarang dan Sydney.

 

DC Jakarta tergabung dalam Pertemuan Mitra Kategorial (Pemikat) di Keuskupan Agung Jakarta, dengan Moderator Romo Stevanus Harry Yudanto Pr. 

​

Domus Cordis di berbagai lokasi tetap berada di bawah otoritas Gereja Katolik atau keuskupan setempat. 

​​

Hubungi kami untuk ikut menginspirasi orang muda

demi dunia yang lebih baik di dalam Kristus.

Tujuan: Required

Terima kasih.

ALAMAT

Yayasan Domus Cordis

Wisma Argo Manunggal

Jl. Let. Jend. Gatot Soebroto Kav. 22, 

Jakarta 12930

Indonesia

WHATSAPP

+62 812 1997 7328

DC Jakarta

DC Semarang

+62 815 1120 8000

EMAIL

bottom of page