Lost & Found: Saat Tuhan Menemukan Kita di Tengah Kebingungan
- Domus Cordis
- 8 jam yang lalu
- 3 menit membaca
Sabtu, 25 April 2026, Domus Cordis Center dipenuhi oleh orang-orang muda yang datang dengan berbagai cerita. Ada yang datang karena penasaran, ada yang diajak teman, ada pula yang sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang sudah lama berputar di dalam hati.

Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat dan penuh tuntutan, Lost & Found hadir bukan sekadar sebagai tema sebuah rekoleksi. Ia menjadi sebuah pertanyaan yang begitu dekat dengan hidup banyak orang muda:
"Tuhan, apakah Engkau sungguh memanggilku? Dan kalau iya, ke mana?"

Selama sehari penuh, peserta diajak menyelami perjalanan hidup Musa. Bukan sekadar mendengarkan kisahnya, tetapi melihat diri mereka sendiri di dalam cerita itu. Musa pernah memiliki segalanya. Ia hidup sebagai seorang pangeran Mesir. Namun dalam sekejap, semuanya hilang. Ia melarikan diri ke Midian dan menjalani hidup sederhana sebagai seorang gembala selama empat puluh tahun.
Empat puluh tahun adalah waktu yang sangat panjang. Mungkin cukup lama untuk merasa bahwa mimpi sudah berakhir. Cukup lama untuk mengira Tuhan sudah melupakan kita.
Namun justru di sanalah kisah Musa berubah. Kitab Keluaran mencatat, "Suatu kali ia menggiring domba kambing itu melewati padang gurun, sampai ia tiba di gunung Allah, yakni gunung Horeb." Musa tidak sedang mencari Tuhan. Ia hanya sedang menjalani pekerjaannya seperti hari-hari biasa.
Tetapi Tuhan menemukannya lebih dulu.

Dari titik itulah peserta diajak menyadari bahwa sering kali Tuhan bekerja dalam cara yang tidak kita duga. Bahkan ketika hidup terasa biasa, sepi, atau penuh kehilangan, Tuhan tidak pernah berhenti mempersiapkan sesuatu yang lebih besar daripada yang mampu kita bayangkan.
Perjalanan berikutnya membawa peserta pada pertanyaan yang lebih dalam.
Apa yang masih kita genggam terlalu erat?
Tuhan tidak memanggil Musa karena kemampuan atau pengalamannya. Ia memanggil Musa dengan menyebut namanya. Lalu Ia meminta Musa untuk percaya.

Di dalam doa dan refleksi, banyak peserta mulai bertanya pada diri sendiri: apakah "tongkat" yang selama ini mereka pegang adalah rasa nyaman, ketakutan, rencana pribadi, atau luka yang membuat mereka sulit melangkah? Tongkat Musa hanyalah tongkat seorang gembala. Sangat sederhana. Namun ketika diserahkan kepada Tuhan, tongkat itulah yang kemudian dipakai untuk melakukan mukjizat, bahkan membelah Laut Merah.
Sering kali Tuhan tidak meminta kita menjadi luar biasa terlebih dahulu. Ia hanya meminta kita berani menyerahkan apa yang kita miliki kepada-Nya.
Puncak rekoleksi bukan terjadi saat sesi materi berlangsung, melainkan dalam keheningan doa pribadi. Satu per satu peserta didoakan. Dalam keheningan itu, banyak hati disentuh dengan cara yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.

Perjalanan hari itu kemudian ditutup dengan Perayaan Ekaristi dan Misa Janji Komitmen yang dipimpin oleh Romo Lamma, CICM. Di hadapan altar, mereka yang memilih untuk melangkah lebih jauh berdiri dan mengucapkan janji komitmen. Bersama-sama mereka mendaraskan Doa Rumah Hati sebagai tanda penyerahan diri kepada Tuhan. Di sanalah seluruh perjalanan Lost & Found menemukan maknanya. Sebab setiap panggilan yang lahir dari pergulatan hati membutuhkan tempat untuk bertumbuh—di dalam Kristus, di dalam Gereja, dan di dalam komunitas yang berjalan bersama.
Menariknya, hampir setengah dari peserta adalah orang muda berusia awal hingga pertengahan dua puluhan. Mereka datang membawa pertanyaan yang mungkin juga dimiliki banyak anak muda hari ini: tentang masa depan, pekerjaan, relasi, dan arah hidup.
Dalam Christus Vivit, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa orang muda bukan hanya masa depan Gereja. Mereka adalah Gereja hari ini.
Apa yang terjadi di Domus Cordis Center menjadi gambaran nyata dari pesan tersebut. Di tengah dunia yang sering mengatakan bahwa generasi muda kehilangan arah, justru semakin banyak anak muda yang memilih datang, mencari Tuhan, dan berani menjawab panggilan-Nya. Karena pada akhirnya, Lost & Found bukan hanya tentang menemukan tujuan hidup. Melainkan tentang membiarkan diri ditemukan oleh Tuhan—Pribadi yang sejak awal tidak pernah berhenti mencari kita.
Penulis: Klaudias Vieri - DC Jakarta
Editor: Maria Anastasia - DC Jakarta




Komentar