Mission Trip: Dari Barat Daya ke Timur, Surat Cinta Tuhan dalam Setiap Langkah
- Domus Cordis
- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca

Empat tahun lalu, aku pertama kali pergi bermisi ke Sumba. Entah kenapa, kali ini kembali lagi ke sana membawa begitu banyak rasa, seperti kembali ke tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan misiku.
Seperti waktu itu, kami berangkat bertiga. Tapi, mission trip kali ini terasa berbeda. Bukan hanya tinggal di satu tempat, kami harus road trip dari Sumba Barat Daya sampai ke Timur, berkeliling ke empat dekenat berturut-turut untuk membawakan retret bagi para pendamping Orang Muda Katolik (OMK), melayani 116 pendamping OMK dari 28 paroki. Jujur saja, di awal aku sama sekali belum bisa membayangkan medan perjalanan dan dinamika yang akan kami hadapi.

Mulai dari sinyal yang kadang ada kadang tidak, mati lampu, perubahan konsep penyampaian materi, sampai momen dag-dig-dug karena harus banyak diskresi di lapangan. Semuanya menjadi bagian dari cerita mission trip ini.
Kami banyak belajar lewat obrolan bersama Romo Jegho, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Weetebula, dan Romo Rio, tentang budaya dan kondisi OMK di sana. Surprise-nya, materi yang sebelumnya sudah kami siapkan ternyata perlu banyak disesuaikan supaya pesan yang dibawakan benar-benar bisa diterima dengan baik. Justru di situlah aku belajar…
pelayanan ternyata bukan tentang membawa sesuatu yang “sempurna”, tapi tentang mau mendengarkan, memahami, dan berjalan bersama mereka.

Awalnya aku pikir perjalanan seminggu ini akan terasa sangat melelahkan. Tapi anehnya, hatiku justru terasa begitu penuh selama perjalanan ini. Tuhan mengirimkan Romo dan teman-teman tim yang seru, hangat, dan menyenangkan untuk berjalan bersama.
Aku juga melihat begitu banyak harapan dalam diri para pendamping OMK yang kami temui. Melalui diskusi, sharing, dan interaksi bersama mereka, aku sadar… seringkali aku masih ragu dan merasa jawabanku belum sempurna. Tapi bukankah memang kita semua sedang sama-sama belajar?
Pada akhirnya, aku hanya mencoba melakukan bagian kecilku, lalu membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hati setiap pribadi. Di situlah aku melihat, saat kita terbatas, rahmat Tuhan justru bekerja tanpa batas.
Di sela perjalanan panjang ini, aku menyempatkan diri untuk menemui-Nya di ruang adorasi, mendoakan tim kami, para Romo, dan semua pendamping OMK di Keuskupan Weetebula. Saat itu aku juga menyelipkan doaku:
“Tuhan Yesus, jika Tuhan berkenan, izinkan aku mengalami cinta Tuhan yang nyata lewat mission trip ini, lewat indahnya Sumba, kebersamaan dengan tim, dan perjumpaan dengan setiap pribadi.”

Ternyata… Tuhan sungguh mengabulkan doa itu dengan begitu lembut dan manis melalui hamparan bukit yang indah, taburan bintang yang tak terhitung jumlahnya, cuaca cerah yang bersahabat, kebersamaan sederhana yang menghangatkan hati, dan setiap pribadi yang menjadi perantaraan cinta Tuhan bagiku.
Mission trip ini ternyata bukan sekadar tentang retret demi retret, tapi tentang bagaimana Tuhan kembali menemukanku lewat perjalanan ini. Ia mengingatkanku bahwa cinta-Nya selalu cukup, bahkan jauh lebih indah dari apa pun yang pernah kubayangkan.
Apakah kamu juga sudah siap menjalani cerita cinta bersama-Nya?
Sumba, 4-11 Mei 2026
Penulis: Angela Kristina Ratriyani - DC Jakarta


























Komentar