Perayaan Natal Bersama Warga Binaan Lapas Cipinang, Jakarta
- Domus Cordis
- 6 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang tertutup rapat, cahaya Natal tetap menemukan jalannya.

Tahun ini menjadi tahun ke-3 kami melayani di Lapas Cipinang dalam perayaan Malam Natal. Sepanjang tahun, kami hadir secara rutin dua kali setiap bulan—dalam Misa Jumat Pertama dan Minggu Ketiga—dengan satu harapan yang tak pernah padam: menjadi cahaya bagi para Warga Binaan.

Harapan itu hidup dua arah. Di tengah berbagai keterbatasan, para Warga Binaan menunjukkan antusiasme yang luar biasa dengan memberikan diri mereka menjadi panitia kecil, meskipun komunikasi dengan panitia di luar lapas sangat terbatas. Beberapa bulan sebelum perayaan Malam Natal, saya pun lebih intens datang ke Lapas untuk berdiskusi dan menggali harapan terbesar mereka akan Natal tahun ini.
Namun, dua bulan menjelang perayaan menjadi masa yang cukup berat. Perubahan peraturan di Lapas membatasi jumlah pelayan yang boleh masuk—hanya tiga orang, termasuk Romo. Ketakutan pun muncul: bagaimana mungkin merayakan Malam Natal dengan tim yang sangat terbatas?

Di tengah kegelisahan itu, para Warga Binaan justru mengajak untuk berdoa rosario bersama setiap kali saya datang. Doa-doa sederhana itu menenangkan hati dan menumbuhkan kembali pengharapan.

“Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” adalah tema Natal yang diangkat tahun ini. Kami sepakat merayakannya secara sederhana namun penuh makna: menghadirkan beberapa keluarga Warga Binaan serta mengundang Paduan Suara OMK Rawamangun untuk turut melayani. Kami bersyukur karena dalam Perayaan Malam Natal 2025, sekitar 30 tamu diizinkan masuk—dan separuh di antaranya adalah keluarga Warga Binaan.
Yang paling berkesan, para Warga Binaan tidak hanya hadir sebagai umat, tetapi juga sebagai pelayan. Mereka mengambil bagian sebagai petugas liturgi, dekorasi, tata tertib, multimedia, hingga membantu mengisi dan merapikan 200 bingkisan Natal dari para donatur. Setiap orang memberikan yang terbaik dari dirinya untuk Tuhan.

Momen yang begitu menyentuh hati terjadi dalam perarakan pembuka Ekaristi Vigili Natal. Pemeran Maria dan Yusuf yang mengarak Bayi Yesus adalah seorang istri yang datang mengunjungi suaminya—seorang Warga Binaan Katolik di Lapas Cipinang. Seluruh umat, yang merupakan Warga Binaan Kristen-Katolik, menghantar perarakan Bayi Yesus dengan lilin elektrik di tangan mereka.
Kami sungguh bersyukur dan bersukacita karena umat di dalam Lapas dapat merasakan makna Natal yang sejati—bahwa Allah sungguh hadir dan menyelamatkan keluarga, bahkan di tempat yang paling terbatas sekalipun. Doa-doa pun dipanjatkan bagi seluruh Warga Binaan, para pembina dan petugas Lapas, OMK, Komunitas Domus Cordis, para donatur, dan keluarga mereka.
Semoga harapan itu terus terpancar, sebagaimana cahaya lilin yang digenggam—kecil, namun tak pernah padam.
Penulis: Daniel - Good Samaritans




Komentar