Rosario Keakraban
- Domus Cordis
- 29 Apr
- 3 menit membaca
Diperbarui: 4 Mei
Pada hari Minggu, 19 April 2026, Teen Cordisian (anggota komunitas Domus Cordis yang berusia remaja atau disingkat TC) memulai langkah awal dalam peziarahan persiapan Annual Retreat (AR) yang akan dilaksanakan pada bulan Juni mendatang. Namun, persiapan ini tidak dimulai dari tabel anggaran atau rincian teknis acara. Sebaliknya, fokus utama diletakkan pada pondasi yang paling mendasar: Pola Pikir dan Pola Hati.

Sebelum membicarakan penggalangan dana (fundraising) untuk kebutuhan retret, Teen Cordisian diajak kembali merenungkan tujuan utama mereka: menjadi pemurid (disciple maker) bagi teman-teman sebaya mereka. Dalam terang tujuan ini, keberhasilan fundraising tidak diukur dari besarnya angka donasi yang terkumpul, melainkan dari sejauh mana proses ini menjadi sarana untuk menghidupi misi pemuridannya. Yesus sendiri menegaskan panggilan ini kepada para murid-Nya: "Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku" (Mat. 28:19).
Anak Allah: Identitas yang Harus Dihidupi
Landasan dari seluruh refleksi ini adalah identitas sejati TC sebagai anak-anak Allah, yang dimungkinkan karena pengorbanan Yesus Kristus. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menulis:"Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: 'ya Abba, ya Bapa!' Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." — Roma 8:15–16
Identitas sebagai anak Allah bukan sekadar status spiritual yang pasif. Ia adalah panggilan untuk hidup secara berbeda — dengan kesadaran penuh akan siapa kita di hadapan Bapa dan apa yang dipercayakan kepada kita.
Pewaris vs. Perintis: Tanggung Jawab di Balik Warisan
TC kemudian diajak merenungkan sebuah kontras yang menarik: Pewaris vs. Perintis. Di dunia ini, identitas "pewaris" atau "anak CEO" kerap diasosiasikan dengan privilege, kekuasaan, dan kebebasan bertindak sekehendak hati. Kitab Suci menggambarkan waris yang sesungguhnya secara berbeda:"Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli waris, oleh Allah." — Galatia 4:7
Warisan Kerajaan Surga memang nyata dan mulia — tetapi di baliknya tersimpan tanggung jawab yang besar. Teen Cordisian ditantang: jika hari ini mereka diberikan sejumlah uang, apakah mereka sanggup mengelolanya sehingga menghasilkan buah? Persoalannya bukan ada atau tidaknya modal, melainkan bagaimana kita mengelola apa yang telah Bapa percayakan — entah itu uang, bakat, talenta, waktu, maupun privilege sebagai anggota TC yang tergabung juga dalam program ASAK. Yesus sendiri memberikan gambaran yang jelas melalui Perumpamaan Talenta: "Sebab kepada setiap orang yang mempunyai, akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." — Matius 25:29
Bapa di Surga, seperti seorang bapa yang bijaksana, tidak asal memberi. Ia memberikan — dan kadang menahan — demi pertumbuhan anak-anak-Nya menuju kedewasaan rohani yang sesungguhnya. Segala yang ada pada kita adalah titipan untuk dikelola demi kemuliaan Kerajaan-Nya. Dalam hal ini, Teen Cordisian mulai melakukan dari yang paling sederhana yaitu mengelola AR TC, dari awal penggalangan dana, teknis acara, hingga nanti seluruh kegiatan pada hari-H retret.
Menguntai Rosario Keakraban
Setelah mendengarkan renungan yang membantu mereka memiliki kesadaran bahwa mereka adalah seorang Pewaris, yang memiliki tanggung jawab yang besar yaitu mengelola yang diberikan oleh Allah, salah satunya adalah bakat. Salah satu cara untuk mengelola bakat tersebut adalah dengan terlibat dalam AR. Terlibat sebagai panitia dan juga sebagai pencari dana. Salah satu kegiatan yang diadakan dalam rangka mencari dana, yaitu membuat rosario mini 5 benua (yang sering disebut juga rosario misioner).

Rosario Misioner adalah rosario dengan 5 warna berbeda yang melambangkan 5 benua, digunakan untuk mendoakan perdamaian, pertobatan, dan karya misi di seluruh dunia. Diinisiasi oleh Uskup Agung Fulton J. Sheen pada tahun 2025, doa ini mengajak umat Katolik merangkul dunia melalui doa, khususnya selama bulan misi Oktober.
Untuk rosario misioner mini yang dibuat oleh anak-anak TC hanya berjumlah 16 manik-manik. Rosario yang dibuat oleh anak-anak TC akan diberikan kepada para donatur yang mau menyumbang untuk acara AR TC. Untuk kegiatan pembuatan rosario ini, anak-anak TC dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok dibuat berdasarkan paroki asal anak-anak TC. Lalu setiap kelompok diberikan tugas. Ada kelompok yang membuat rosario dari salib sampai ke segitiga rosario. Ada kelompok yang membuat lingkaran rosario. Ada juga kelompok yang menggunting senar yang akan dipakai. Ada juga kelompok yang memasukkan rosario yang sudah jadi dan kartu doa ke dalam kantong tile, sehingga siap untuk dibagikan kepada para donatur. Mereka dengan semangat membuat sambil bercengkrama. Ada keakraban yang timbul. Kegiatan yang kelihatan sederhana tapi juga menuntut ketelitian ini, ternyata dapat membuat anak-anak TC mempelajari hal baru sekaligus mengenali bakat-bakat mereka. Kegiatan membuat rosario ini selain salah satu kegiatan dalam rangka penggalangan dana AR TC, tapi juga kegiatan yang ternyata dapat mengakrabkan mereka satu sama lain dan membuat mereka merasa dilibatkan dan juga memiliki komunitas ini. Mereka dapat merasakan persahabatan, rasa kekeluargaan di dalam setiap kegiatan mempersiapkan acara AR TC ini.
Akhir kata, semoga buah-buah dari kegiatan membuat rosario kali ini tidak hanya berlangsung sebentar tapi terus berlanjut, sehingga persahabatan dan persaudaraan dalam TC terus berlanjut bahkan saat mereka sudah keluar dari TC.
Penulis: Agnes Natalia - DC Jakarta




Komentar