Domus Cordis Bermisi ke Maumere

Diperbarui: 7 Apr


Pada tanggal 24 Februari 2022 yang lalu, lima orang full-timer di Domus Cordis menjalani mission trip ke Maumere selama sembilan hari. Mission trip ini dilaksanakan dalam rangka membawakan retret bagi para mahasiswa Katolik di IKIP Muhammadiyah Maumere. Selain itu, tim Domus Cordis juga memberikan retret kecil bagi teman-teman pengurus komunitas Go Jesus yang juga menjadi panitia untuk retret IKIP Muhammadiyah.


Retret pertama diadakan pada tanggal 27 - 28 Februari 2022 di Biara Imam-Imam Missionaries of God’s Love (MGL) di Nita, Maumere. Retret ini merupakan langkah awal kerja sama antara IKIP Muhammadiyah dan komunitas Go Jesus yang memang memiliki keinginan untuk membangun komunitas basis bagi orang muda Katolik di Maumere. Kegiatan yang bertajuk Retret Go Jesus ini dihadiri oleh 173 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan beberapa dosen dari IKIP Muhammadiyah, serta mengundang juga orang muda Katolik dari Ende, Larantuka, dan beberapa paroki setempat.


Pembukaan retret dimulai dengan tarian Hegong yang juga diiringi dengan alat musik tradisional. Suasana yang meriah juga ditambah dengan theme song Go Jesus yang membuat peserta retret ikut bergoyang. Pembukaan dilanjutkan dengan kata sambutan dari pastor pembina Go Jesus, Pater David Lemewu, MGL, serta perwakilan dari tim Domus Cordis, Renaldo.


Sesi pertama segera dimulai setelah diawali pujian dan penyembahan. Sesi ini dibawakan oleh Renaldo dengan tema “Cinta Kasih Allah dan Luka”. Dalam sesi ini, Renaldo menyampaikan hal-hal mendasar yang perlu diketahui dan diyakini oleh para peserta retret, yaitu bahwa mereka masing-masing sangat dikasihi Tuhan. Di sisi lain, beliau juga menambahkan bahwa luka merupakan sesuatu yang membuat kenyataan bahwa kita dikasihi Tuhan menjadi kabur dan sulit untuk dipercaya. Para peserta diajak untuk menyadari kedua hal ini dan terus mempercayai kebenaran, walaupun terkadang sulit.


Pater David Lemewu, MGL kemudian melanjutkan sesi ini dengan tema kedua, yaitu “Penyelamatan dan Pertobatan dalam Kristus”. Pater David sangat senang menyanyi, sehingga beliau membuka sesinya dengan menyanyikan lagu yang berjudul Kau Tanggung Semua. Peserta diajak untuk menyadari bahwa Yesus sudah menyelamatkan dan menebus kita, sehingga kita perlu berusaha untuk terus memperbaiki hidup kita.


Setelah dua sesi selesai, peserta diajak untuk duduk berkelompok sesuai dengan institusi masing-masing. Tiap-tiap kelompok didampingi oleh satu orang anggota komunitas Go Jesus. Beberapa anggota tim Domus Cordis yang bisa membantu juga ikut mendampingi. Peserta diminta untuk merefleksikan dan membagikan kebaikan Tuhan yang sudah mereka alami dalam kehidupan mereka di dalam kelompok. Pada awalnya, memang tidak semua peserta mau langsung terbuka dan membagikan ceritanya. Akan tetapi, para pendamping dari komunitas Go Jesus mampu mengajak para peserta untuk terlibat lebih aktif dengan memberikan contoh dan apresiasi yang baik.


Sesi ketiga dilanjutkan setelah para peserta istirahat makan siang. Sesi ini dibuka oleh tim Go Jesus yang menampilkan sebuah drama. Cerita yang dibawakan menampilkan kesulitan yang dialami seorang anak untuk berkomitmen dalam pelayanan, di mana ia harus mengatur waktu antara pekerjaan, pelayanan, dan mengurus ibunya yang sakit. Anak itu juga memiliki kakak-kakak yang tidak mendukung pelayanannya. Akan tetapi, ia tetap berusaha untuk setia dalam pelayanan, hingga pada akhirnya keluarganya ikut dipulihkan. Tasia, selaku pengajar dari Domus Cordis, melanjutkan sesi ini dengan membagikan kisahnya dalam mengikuti Tuhan. Ia juga mengajak para peserta untuk membuat keputusan bahwa pada saat itu juga, mereka mau setia mengikuti Tuhan.


Kegiatan kemudian dilanjutkan setelah jeda waktu untuk makan malam dan bersih diri. Sesi keempat dibawakan oleh Renaldo dengan tema Karunia Roh Kudus. Dalam sesi ini, Renaldo menjelaskan karunia-karunia karismatik dari Roh Kudus yang bisa menjadi alat bagi kita semua dalam mewartakan Kabar Gembira. Selain itu, Renaldo juga memberikan pengantar untuk sesi pendoaan atau Pencurahan Roh Kudus yang akan dilaksanakan setelahnya.


Sesi Pencurahan Roh Kudus diawali dengan pentahtaan Sakramen Mahakudus oleh para imam MGL. Sesi ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 jam, mengingat cukup banyaknya peserta yang didoakan. Seluruh tim Domus Cordis dan para imam MGL juga ikut membantu sebagai pendoa. Sesi ini juga menjadi sesi penutup untuk retret hari pertama.



Keesokan harinya, para peserta dan tim Go Jesus memulai kegiatan dengan olahraga pagi dan sarapan. Para peserta juga diajak untuk mengenakan pakaian putih sebagai tanda hidup baru. Sesi dimulai dengan tema “Bertumbuh dalam Karunia Roh Kudus”. Renaldo mengajak para peserta untuk menggunakan karunia yang sudah mereka terima untuk Gereja, terutama dalam komunitas. Beliau memberikan perumpamaan yang menarik, di mana ketika pada malam Paskah, kita menyalakan lilin untuk upacara cahaya. Jika lilin kita mati, maka kita akan mengambil api baru dari orang di sebelah kita. Komunitas, yang juga terdiri dari sekumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dalam melayani Tuhan, bisa menjadi sumber api bagi kita jika kita membutuhkannya. Beberapa anggota Go Jesus yang juga bekerja sebagai Youth Worker untuk membantu Domus Cordis juga membagikan kesaksian mereka dalam berkomunitas. Mereka mendorong para peserta untuk mau berkomunitas dalam institusi masing-masing dan hasilnya, para peserta juga cukup tergerak untuk mendaftarkan diri mereka. Hingga saat ini, terdapat 173 peserta yang sudah didata oleh tim Go Jesus.


Retret pertama ini kemudian ditutup dengan misa perutusan, foto bersama, dan rekreasi. Para pemain alat musik tradisional yang di awal acara membuka retret ini kembali hadir untuk memeriahkan penutupan. Sebagai kenang-kenangan, Pater David Lemewu, MGL juga memberikan para peserta kompor dengan bahan bakar kayu api yang unik untuk dibawa pulang.


Dua hari kemudian, tim Domus Cordis, Go Jesus, dan para imam serta frater dari biara MGL bertolak ke Rumah Retret Pasionis di Nilo. Retret kedua ini memang ditujukan sebagai pengayaan dan nourishment bagi tim yang sebelumnya sudah membuat retret bagi mahasiswa IKIP Muhammadiyah. Hari pertama dari retret kedua ini juga bertepatan dengan Rabu Abu, sehingga retret dibuka dengan misa Rabu Abu di kapel.


Sesi pertama dari retret kedua ini dibawakan oleh Renaldo dengan tema “Called”. Para peserta diajak untuk menyadari bahwa masing-masing dari mereka dipanggil oleh Tuhan dan diperlengkapi untuk misi tertentu. Untuk lebih menyadari suara dan panggilan Tuhan ini, Renaldo juga memberikan waktu bagi peserta untuk melakukan silensium dan doa hening sepanjang malam. Para peserta juga diberikan kuesioner Karunia Roh Kudus sebagai bahan refleksi.


Setelah para peserta beristirahat untuk bersih diri dan makan malam dalam suasana hening, Renaldo kembali memberikan briefing singkat terkait Adorasi Taize yang akan dilaksanakan setelahnya. Renaldo mengajak para peserta untuk membuka diri dan lebih peka pada suara Tuhan, sekaligus melatih karunia nubuat. Adorasi Taize kemudian dibuka dengan pentahtaan Sakramen Mahakudus oleh Pater Izak, MGL dan diiringi lagu dari Chris serta Tasia.


Sesi Adorasi Taize berjalan dengan lancar. Para peserta juga cukup banyak memberikan nubuatan. Di akhir sesi, Renaldo mengajak para peserta saling mengkonfirmasi nubuatan yang sudah dicatat sebagai peneguhan bagi orang yang memberikannya. Sesi ini juga menjadi penutup hari pertama dari retret kecil ini.


Keesokan harinya, para peserta memulai hari dengan sarapan yang segera dilanjutkan dengan senam pagi. Tentunya, kali ini para peserta tidak berada dalam keheningan. Tim Domus Cordis yang sedang bertugas di ruang aula juga diminta maju ke depan untuk menari Lula Lula.


Sesi kemudian kembali dibuka oleh Renaldo dengan tema “Gifted”. Dalam sesi ini, Renaldo menjelaskan tiap-tiap karunia Roh Kudus yang ada dalam kuesioner yang sudah dibagikan di hari sebelumnya. Renaldo juga mengajak tiap orang yang mengaku memiliki karunia tertentu untuk menjawab pertanyaan refleksi yang sesuai dengan karunianya.


Setelah para peserta mengetahui secara umum mengenai karunia yang mereka miliki, Renaldo menyambung sesinya dengan tema “Sent”. Dalam sesi ini, Renaldo juga mengingatkan kembali bahwa karunia yang dimiliki oleh setiap peserta merupakan titipan dari Tuhan, yang juga akan menjadi alat bagi mereka untuk misi hidup tertentu. Renaldo mengajak para peserta untuk merefleksikan kembali misi hidup pribadi mereka, namun juga menghimbau mereka sebagai satu tim untuk merumuskan misi komunitas Go Jesus. Sesi kemudian ditutup dengan sharing dari beberapa peserta yang cukup antusias dan terberkati dengan retret ini. Retret kemudian ditutup dengan foto bersama dan misa di patung Maria Bunda Segala Bangsa yang terletak di atas bukit, sehingga kita bisa melihat hampir seluruh kota Maumere dari atas. Definitely mass with a view.



Mission trip kali ini memang cukup panjang dibandingkan dengan yang biasanya, mengingat ada dua retret yang perlu dilayani oleh tim Domus Cordis. Akan tetapi, di sela-sela waktu persiapan retret, tim Domus Cordis masih sempat diajak berjalan-jalan bersama dengan tim di Maumere. Beberapa tempat yang kami kunjungi antara lain Gereja Tua di Lela, Wisung Fatima, Taman Doa Kristus Raja, bahkan kami sempat mendaki Kelimutu. Kami juga sempat meninjau pelaksanaan sel doa di Universitas Nusa Nipa dan bersilaturahmi dengan rektor IKIP Muhammadiyah.


Sampai bertemu di mission trip selanjutnya!


Penulis: Maria Aufa - Caritas DC Jakarta


Video liputan:



35 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua