Bearing Fruit that will Last


Inspire Jakarta di bulan Oktober ini kembali dibawakan oleh Yurika Agustina. Dalam Inspire Jakarta bulan lalu, Yurika sudah mengajak kita untuk bersama-sama merenungkan kutipan dari Injil Yohanes bab 15 ayat 1 dan 2, tentang apa yang harus kita ketahui untuk bertumbuh di dalam Kristus. Maka Inspire kali ini Yurika mengajak kita ke langkah selanjutnya, yaitu berbuah selamanya di dalam Kristus.


Bacaan yang diangkat dalam Inspire kali ini adalah Yohanes 15 ayat 16 – 17. Yurika mengingat kembali bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih oleh Kristus. We are the chosen ones, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu,” Sabda Yesus. Kita begitu berharga di mata Tuhan, tetapi tentunya with great power comes great responsibility. Kita yang sudah dipilih oleh Tuhan ini juga ditetapkan untuk menghasilkan buah dan buahnya tidak berkesudahan atau terus menerus berbuah bagi Kerajaan Allah.

Tuhan mendorong kita semua untuk pergi keluar dan menghasilkan buah yang tetap.


Yurika merangkum tiga cara untuk bisa terus berbuah, yaitu:

1. Reaching out people

Yesus tidak ingin murid-murid-Nya tinggal diam dan menyimpan Kabar Gembira hanya untuk diri mereka sendiri, melainkan harus mewartakan dan membagikannya kepada semua orang. Satu hal yang menarik yang diangkat oleh Yurika adalah bahwa Yesus tidak mengatakan perihal ini kepada semua orang yang mengikuti Dia, melainkan hanya pada murid-murid-Nya. Murid-murid-Nya adalah orang-orang yang Ia basuh kakinya, yang menyangkal dirinya, yang memanggul salib, dan mengikuti Yesus sendiri. Dalam konteks kita saat ini, orang-orang yang dipilih Yesus adalah orang-orang yang sudah menerima baptisan. Pertanyaannya, kapan kita sadar bahwa kita adalah seorang Katolik yang sudah dibaptis? Pertanyaan ini mungkin lebih mudah dijawab oleh mereka yang convert dari agama lain ke dalam agama Katolik. Atau, mungkin kita juga bisa menjawab kapan tanggal baptisan kita. Akan tetapi, yang ditanyakan adalah kapan kita sungguh-sungguh menyadari baptisan kita, beserta tugas dan rahmat yang terkandung di dalamnya?


2. Reproduce yourself

Bila kita ingin mereproduksi sesuatu maka kita akan meng-copy atau memperbanyak sesuatu itu. Bila kita ingin mereproduksi sebuah perbuatan baik atau pencapaian yang baik maka kita akan mengulanginya. Ketika binatang, tumbuhan dan manusia akan mereproduksi dirinya maka dia akan melahirkan atau menghasilkan yang muda atau yang baru lagi. Setelah bertumbuh sebagai murid Kristus, maka dia harus memuridkan orang lain juga menjadi murid Kristus seperti dirinya. Yesus juga ingin murid-murid-Nya memuridkan lebih banyak orang lagi. Kita harus menjadi pemimpin agar bisa memberi pengaruh kepada orang lain. Kita harus menjadi pemimpin-pemimpin yang baik dan benar karena “Truthful witness save lives” kata Amsal. Kita menjadi pemimpin yang memuridkan agar bisa menjadi ‘terang dunia’, menjadi contoh serta teladan, dan membuahkan murid-murid Kristus lebih banyak lagi.


3. Radical love

Cinta kasih Kristiani bukanlah cinta yang murahan. Ciri kekristenan yang paling kuat adalah cinta yang radikal. Kita memiliki contoh cinta yang radikal, yaitu Yesus sendiri yang mati di kayu salib bagi orang-orang berdosa. Ia ingin kita mengikuti jejak-Nya dalam mencintai, yaitu sehabis-habisnya, termasuk ketika berhubungan dengan orang-orang yang mungkin menyebalkan dan sulit untuk kita cintai. Mengampuni mereka yang bersalah kepada kita adalah wujud nyata dari cinta yang radikal karena itulah yang Yesus teladankan di atas kayu salib dan yang kita daraskan dalam Doa Bapa Kami.


Inspire Jakarta bulan Oktober ini, yang kebetulan berada di bulan yang sama ketika aku pertama kali mengikuti katekumen enam tahun yang lalu, membuatku merefleksikan hal itu kembali. Aku tidak tahu kapan pastinya aku menyadari tanggung jawab itu, tetapi aku tahu bahwa pilihanku menjadi seorang Katolik comes with great power and greater responsibility. Sejak sebelum aku dibaptis, aku menyadari ada rahmat Tuhan yang menyertai aku dalam membagikan ceritaku, terutama kepada orang-orang yang mengenalku dan mengenal masa laluku. Hal ini juga sempat menjadi pertanyaan dalam sesi QnA, dan aku sangat memahami perasaan itu. Akan tetapi, aku cukup mengenal diriku dan kelemahanku sendiri untuk menyadari rahmat Tuhan yang bekerja ketika aku bertemu dengan teman-teman lama dan mewartakan perjumpaanku dengan Tuhan. Tentunya upayaku dalam me-reach out mereka tidak langsung berhasil, tetapi aku diingatkan kembali untuk terus menabur benih saja, karena Tuhan yang akan menumbuhkannya. Tugasku hanya mencintai mereka semua dengan radikal.


Aku juga teringat tulisan mantan wakil gembalaku waktu aku dibaptis dua tahun yang lalu. Tuhan tahu bahwa aku, putri yang dikasihi-Nya, akan segera bertugas di tempat yang unknown dan mungkin mengerikan. Karena itu, Ia tidak hanya memilihku melalui baptisan, tapi juga langsung menguatkan aku melalui Sakramen Krisma.


Aku, kamu, dan kita semua adalah orang-orang yang dipilih dan dikuatkan oleh Tuhan. Perjumpaan dan kecintaan kita kepada Tuhan yang diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari bisa menjadi api yang bernyala, yang juga akan menyalakan api lainnya. Semoga kita selalu menyadari hal ini.


Sampai jumpa di Inspire Jakarta bulan depan!


Penulis: Maria Aufa - Caritas DC Jakarta

Editor: Yurika Agustina - Donkey DC Jakarta

13 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua