Menjadi Jembatan Kasih, Bukan Hambatan Kasih

Diperbarui: Agt 3

Domus cordis sebagai komunitas orang muda, dengan misi untuk membawa orang muda sebanyak mungkin kepada Yesus. Domus cordis selalu punya tema besar, untuk setiap tahunnya. Lalu mengajak semua cordisian untuk menghidupinya. Tema besar tahun ini adalah Mercy yang banyak diulas melalui pertemuan gathering bulanan Inspire Jakarta. Ini bukan merk mobil. Tapi ini tentang belas kasih. Belas kasih siapa? Belas kasih Tuhan.


Menjadi Jembatan Kasih

Membahas soal belas kasih memang tidak bisa sebatas teori. Atau sebatas omong-omong, lalu selesai. Kita sudah sepakat saat membahas topik Bridge of Mercy, bahwa Tuhan mau kita menjadi jembatan belas kasih untuk orang lain. Maksudnya jika kita sudah mendapatkan belas kasih dari Tuhan, ya “seberangkan lah” belas kasih itu kepada orang lain. Diri kita lah yang jadi jembatan. Bagaimana caranya? Kita bisa mulai dengan melakukan karya belas kasih jasmani.



Kita juga bertanya, seperti apa sih bentuknya? Nah injil Matius 25 : 35 – 40 memberitahu kita.

Yang dimaksud dengan karya belas kasih jasmani adalah: “memberi makan untuk orang lapar, memberi minum untuk orang haus, memberi tumpangan bagi orang asing, memberi pakaian kepada orang telanjang, melawat orang sakit, serta mengunjungi orang di penjara.

Sosok Nyata Pelaku "Mercy"?


Ada gak yah orang di dunia nyata yang melakukan ini? Domus cordis berkesempatan menghadirkan dr. Angela Abidin dan Erlip Vitarsa, pada Inspire Jakarta Juli 2021. Kedua sosok ini menjadi “jembatan” belas kasih Allah. Seperti apa sosok mereka? Dibantu oleh host dr. Lucia Luliana, Sp.KFR, mari kita kenal lebih dekat kedua sosok ini yang begitu inspiratif.


dr. Angela adalah seorang aktivis penyayang kehidupan (pro life). Pelayanannya pun gak main-main, yaitu memberikan layanan bagi perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Detailnya bahwa mendampingi mereka agar tetap kuat. Jangan sampai wanita-wanita itu berpikiran untuk menggugurkan kandungan. Atau aborsi, yang kadang sering jadi pilihan terakhir. Yang dikira sebagai solusi. Ternyata hanya terbawa emosi.


Sosok yang kedua adalah Mas Erlip Vitarsa. Mas Erlip adalah penanggung jawab komunitas Sant’Egidio Jakarta. Mas Erlip dan komunitasnya memiliki kegiatan rutin untuk bertemu dengan orang-orang yang hidup di jalan. Jika kita berpikir bahwa orang di jalanan sebagai pengganggu, dan cenderung mengabaikannya. Nah mas Erlip dan komunitasnya malah sebaliknya. Ini adalah bukti nyata belas kasihan. Mengasihi terhadap orang yang mengasihi kita itu mudah. Tapi bagaimana kita mengasihi tanpa pernah berpikir untuk menerima. Atau mengharapkannya kembali. Itu yang susah. Tapi itu pula yang ditunjukkan kedua sosok di atas.


Suka Duka Perjalanan Belas Kasih

Lalu kita kepo, apakah saat menjalani semua berjalan aman-aman saja?

Yah mereka dengan jujur mengatakan bahwa banyak sekali hambatan. Banyak sekali suka duka. Kan kita manusia juga punya perasaan. Yang namanya perasaan itu tidak ada tombol on-offnya. Kadang naik turun. Tapi keterikatan mereka terhadap Tuhan sajalah yang memampukan mereka.


Setuju.


Namanya membagi belas kasih Tuhan. Kita tidak mungkin terpisah dari sumber belas kasih itu. Tuhan. Sang sumber belas kasih itu berasal. Begitulah sedikit cerita dari Inspire Jakarta Juli 2021.


Sampai bertemu di Inspire Jakarta bulan Agustus. See you guysss….


Lengkapnya bisa ditonton di sini yaks:


Penulis: Aufa - DC Jakarta (Caritas)

Editor: Ali - DC Jakarta (Caritas)

18 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua