Pacaran Beda Agama, Bolehkah?

Diperbarui: 8 Mar


Jumpa lagi, kali ini bersama dengan BTS eits... BTS ini bukan "boy band" asal Korea ya. BTS ini adalah singkatan yang lebih "holy", yaitu "BIBLE TEEN STUDY". Sebuah acara untuk remaja yang diadakan oleh Seksi Kepemudaan BPK Keuskupan Pontianak, Kalimantan Barat. Acara ini diadakan pada tanggal 25 Februari 2022 dan dihadiri sekitar 36 peserta dari berbagai kalangan usia. Pembicaranya adalah Violison Martheo dengan tema "Pacaran Beda Agama boleh ato ga siy?" MC acara ini memulai dengan ngobrol-ngobrol sekilas sama Bro Vio seputar komunitas Domus Cordis, yang berlanjut dengan "Praise and Worship". Nah, kalo kalian baca judul "talk" kali ini, kira-kira jawaban apa yang muncul dalam pikiran? Saya dulu berpikir boleh-boleh aja, toh mereka yang nikah beda agama juga banyak. Gimana menurut kamu pemikiran seperti itu?


Apa sih tujuannya berpacaran? Kalo kita bertanya sama anak ABG umur kurang dari 20 tahun-an, biasanya mereka akan menjawab kalo berpacaran itu tujuannya buat cari gandengan aja, makanya mereka rajin melirik cowok atau cewek. Sedangkan buat yang berumur sekitar 25 – 30 tahun, biasanya ini adalah umur yang mulai ingin serius berpacaran karena tujuannya adalah mencari pasangan hidup.

Dalam iman katolik, tujuan berpacaran adalah untuk pernikahan. Dalam Piramida Relasi nya Teologi Tubuh, relasi antara cowok dan cewek dimulai dari pertemanan atau persahabatan yang terus mengerucut sampai masuk pada jenjang pernikahan. Jangan dibalik ya, teman-teman. Bukan dimulai dengan hubungan seks sebelum menikah atau kumpul kebo dulu baru menikah karena sekarang ini banyak yang memulai relasi cowok dan cewek yang seperti itu.


Dalam acara ini dijelaskan oleh Bro Vio tentang pernikahan yang ideal dalam iman Katolik. Pernikahan memiliki nilai ilahi karena menjadi gambaran dari pernikahan antara Kristus, sebagai Mempelai Lelaki dengan Gereja sebagai Mempelai Perempuan. Bisa kalian baca dalam Kitab Efe-sus 5: 20-33. Kristus adalah kepala jemaat dan jemaat tunduk kepada Kristus, sehingga suami pun menjadi pemimpin dalam rumah tangga dan isteri akan tunduk pada suaminya. Namun Kristus sebagai mempelai lelaki sangat mencintai Gereja, mempelai perempuannya, dengan cara mengasuh dan merawatnya, menyucikan dengan air dan firman, bahkan sampai mengorbankan hidupnya untuk mati di kayu salib demi menebus manusia. Artinya seorang suami juga harus melakukan yang sama kepada isterinya. Maka kita menemukan makna keindahan dalam perkawinan yang bahagia, yaitu ketika pasangan suami dan isteri saling memberikan diri satu sama lain, seperti pemberian diri Kristus pada Gereja. Bila mereka yang menikah bisa menghayati hidup perkawinan dalam semangat pemberian diri antara Kristus dengan Gereja-Nya, maka perkawinan mereka akan menjadi bahagia. Ditambah kalo "happy single" cowok menikah dengan "happy single" cewek maka terjadilah "double happiness" yang akan membuat perkawinan mereka semakin bahagia.

Setelah kita tahu bahwa pernikahan katolik adalah gambaran pernikahan Kristus dengan Gereja-Nya, lalu kalo pacaran dengan yang bukan Katolik gimana? Kalo pacaran antara seorang Katolik dengan Kristen, mungkin masih nyambung kalo pas ngomong tentang Tuhan. Paling bakalan berbeda pandangan tentang Ekaristi, Komuni atau Tubuh Kristus dan Bunda Maria. Sedangkan seorang Katolik yang berpacaran dengan Non Kristen, seperti Budha, Hindu, atau Islam maka perbedaannya akan semakin jauh. Ada perbedaan pandangan dan iman kepada Yesus, berbeda pandangan tentang nabi-nabi atau terhadap Sidharta Gautama, dan masih banyak lagi. Bro Vio sendiri berprinsip kalo berpacaran harus dengan sesama orang Katolik, karena sama-sama mengimani Yesus yang berdampak dalam kehidupan sehari-hari dan bergereja. Maka, pacaran yang sehat merupakan pondasi yang kuat untuk membangun rumah tangga yang sehat juga. Selain sesuai dengan piramida relasi juga kalo akhirnya mereka menikah maka dalam pernikahan itu mereka bisa saling menerimakan Sakramen Perkawinan.


Nah, semoga "talk" kali ini semakin membuka sudut pandang kita semua mengenai makna pernikahan dalam iman Katolik. Bagi kamu yang tertarik mengundang Domus Cordis untuk membawakan materi seperti BTS ini, silakan kontak ke sini.


Penulis: Inggrid - DC Semarang Missio Dei

Editor: Yurika - DC Jakarta Donkey


11 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua