Pengelolaan Sampah di TC Promasan sebagai Perwujudan Laudato Si

Diperbarui: 1 Apr

“If the simple fact of being moves people to care for the environment of which they are a part, Christians in their turn realize that their responsibility within creation, and their duty toward nature and the Creator, are an essential part of their faith”-Laudato Si #64-

Sampah plastik sebanyak 1,3 miliar ton diperkirakan akan mencemari daratan dan lautan dunia pada tahun 2040 mendatang. Hal ini tentu menjadi keprihatinan bagi kita manusia yang tinggal di bumi. Bagaimana tidak, tempat yang kita tinggali dan kita sebut sebagai rumah di tahun-tahun mendatang akan menghadapi bencana akibat menumpuknya sampah. Tahun 2015 peneliti dari Universitas Georgia Amerika Serikat mempublikasikan bahwa Indonesia menjadi pemasok sampah plastik terbanyak nomorá dua dunia, yaitu sebanyak 187,2 juta ton dibawah negara Cina. Sampah plastik ini sangat sulit terurai secara alami baik yang ada di daratan maupun di lautan. Sampah plastik baru bisa terurai puluhan bahkan ratusan tahun. Itu pun tidak terurai secara sempurna namun berubah menjadi serpihan kecil atau yang disebut mikro plastik.


Adakah peran gereja dalam menjaga alam ciptaan?

Pada tahun 2015 Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik Laudato Si yang berisi tentang kepedulian memelihara alam ciptaan sebagai rumah umat manusia. Sebuah ensiklik yang tidak hanya merespon realita sosial namun juga mengungkapkan basis teologinya sehingga aksi-aksi implementatifnya menjadi gerakan bersama umat Katolik dalam menjaga bumi ini.


Dalam menanggapi seruan Bapa Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si, maka Teen Cordisian Promasan serta segenap siswa SMPK Kemasyarakatan juga mencoba bergerak mulai dari skala yang lebih kecil. Mulai dari menumbuhkan kesadaran pada diri sendiri untuk mulai menjaga bumi, menggunakan produk yang ramah lingkungan sampai dengan mengolah sampah yang dihasilkan, serta ikut berperan aktif sebagai umat Kristiani di dalam kepedulian terhadap lingkungan. Ekoliterasi sebagai solusi, pemberian pemahaman sedini mungkin kepada siswa-siswi SMPK Kemasyarakatan tentang sebuah konsep, paradigma, atau nilai baru pendidikan yang membawa pesan-pesan tentang kesejahteraan bumi menjadi langkah awal yang dilakukan sebagai bagian dalam proses pendampingan kepada para remaja ini.


Pada tanggal 15 Maret 2022, kami melakukan pelatihan mengenai Sekolah Hijau yang tidak hanya menekankan pemahaman mengenai pentingnya ekoliterasi namun juga langkah nyata yang dilakukan oleh segenap warga sekolah. Diantaranya membuat Ecobrick yaitu botol plastik yang diisi padat dengan limbah non-biological untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali. Ecobrick mampu memberikan kehidupan baru bagi limbah plastik. Ecobrick adalah cara lain untuk utilisasi sampah-sampah tersebut selain mengirimnya ke landfill (pembuangan akhir). Dengan ecobrick kita memiliki kesempatan untuk mengubah pengorbanan komunitas dan ekosistem dalam mencerna plastik. Kita dapat mengubah plastik menjadi bermanfaat bagi masyarakat dan ekosistem setempat.


Selain pelatihan membuat ecobrick kami juga mengadakan pelatihan untuk mengumpulkan dan memilah sampah elektronik dengan membuat drop point E-waste (elekronik waste) di sekolahan sehingga mereka terbiasa untuk membuang dan mengumpulkan sampah elektronik terpisah dengan sampah lainnya. Karena sampah elektronik mengandung material yang bisa digunakan kembali dan ada yang bersifat toksik (berbahaya bagi kehidupan manusia) dan mencemari lingkungan.


“Mari lebih bijak dalam membuang dan mengolah sampah agar bumi ini tetap lestari dan sebagai perwujudan iman kita kepada Allah.”


Penulis: Tim DC Semarang


2 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua