Pengembangan Komunitas Basis: Companionship

Di tahun 2021 yang lalu, Domus Cordis memulai sebuah kegiatan pengembangan dan pembinaan komunitas orang muda yang dinamakan program Pengembangan Komunitas Basis (PKB). Program ini tentunya sejalan dengan visi Domus Cordis sendiri, yaitu untuk menginspirasi orang muda untuk hidup dalam Kristus. Karena itu, di tahun 2022 ini Domus Cordis kemudian mengambil langkah lebih jauh, yaitu dengan membuat sistem companionship untuk pendampingan komunitas ini.


Sistem companionship didasarkan pada konsep “teman seperjalanan” yang ditemui oleh murid-murid Yesus di Emaus, yang dituliskan dalam Injil Lukas bab 24. Murid-murid ini berniat untuk pulang ke daerah asal masing-masing karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan di Yerusalem, sementara Yesus ketika itu sudah wafat di kayu salib. Di tengah perjalanan, Yesus hadir dan kembali mengarahkan mereka kembali ke Yerusalem. Mereka juga kemudian menyadari kehadiran-Nya di antara mereka. Cordisian yang diutus untuk pelayanan ini disebut sebagai Companion dan diharapkan bisa menginspirasi kelompok orang muda yang didampinginya untuk hidup lebih baik dalam Kristus.


Pada hari Kamis, 31 Maret 2022 yang lalu, tim PKB Domus Cordis untuk pertama kalinya melangsungkan briefing untuk para Companion ini. Ada 30 orang Companion yang sudah melewati tahap wawancara dan 23 di antaranya menghadiri acara ini secara live. Christian Pradana, selaku ketua program PKB, membuka acara ini dengan mengajak para Companion untuk menyadari bahwa tidak semua orang muda seberuntung mereka yang sudah memiliki komunitas rohani yang membantu pertumbuhan iman mereka. Ia juga menyampaikan bahwa pelayanan sebagai Companion ini juga merupakan sebuah misi, sesuai dengan amanat agung Yesus dalam Injil Matius bab 28. Renaldo kemudian melanjutkan materi dengan menceritakan kisah Jan Leopold Tyranowski yang merupakan pendamping rohani dari St Yohanes Paulus II. Ia memberikan penyemangatan untuk para Companion, bahwa pendampingan orang muda memang bukan hal yang mudah dan singkat, karena sampai akhir, Jan Tyranowski bahkan tidak tahu bahwa salah satu anak dampingannya menjadi paus dan orang kudus. Para Companion diharapkan untuk tidak mudah menyerah dalam mendampingi orang muda dan terus berpegang pada Tuhan dalam prosesnya.


Setelah para Companion dipersiapkan untuk memiliki sikap hati dan mindset yang mendukung pelayanan ini, mereka juga diberikan informasi teknis terkait tugas-tugas yang perlu mereka lakukan ke depannya. Mereka juga diberikan informasi mengenai kelompok yang akan mereka dampingi, terutama berkaitan dengan karakteristik khusus dari kelompok tersebut, misalnya usia atau latar belakang anggota kelompoknya. Para Companion juga dibuatkan grup chat sebagai sarana bertukar informasi, sharing, ataupun saling menguatkan dalam pelayanannya. Mereka akan segera berkenalan dan mulai beraktivitas dengan kelompok yang akan mereka dampingi dalam bulan April ini.


Ke depannya, Domus Cordis berharap untuk dapat lebih banyak lagi mendampingi komunitas orang muda dan menghasilkan Companion yang sungguh-sungguh bisa menjadi teman seperjalanan bagi orang muda di luar sana. Mari kita bersama-sama mengubah dunia di dalam Kristus!


Penulis: Maria Aufa - DC Jakarta (Caritas)

8 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua