top of page

Percayakah Kita pada Penyelenggaraan Tuhan?

Satu bulan sudah berlalu di tahun 2023 ini. Apakah sudah ada penyelenggaraan dari Tuhan yang sudah kamu rasakan? Apakah target-targetmu tercapai sesuai dengan rencana? Atau justru rasanya semuanya tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan?


Kita seringkali merencanakan dan menginginkan banyak hal yang kita rasa baik dalam hidup kita. Kita juga seringkali berpegang pada ayat-ayat kitab suci, misalnya Roma 8:28 yang juga kita sempat bahas di bulan lalu, dimana dikatakan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Akan tetapi, tidak jarang kita justru merasakan sebaliknya. Bagaimana caranya kita bisa percaya pada ayat ini, sementara semuanya sepertinya tampak buruk?


Dalam Inspire Cordisian bulan Februari ini, Riko mengajak kita untuk melihat kisah Yusuf di Kejadian bab 37 dan seterusnya. Kita mungkin sudah familiar dengan kisah ini, di mana Yusuf yang awalnya anak kesayangan bapaknya kemudian justru dibenci dan dibuang oleh saudara-saudaranya sendiri. Ketika ia dibeli sebagai seorang budak, Tuhan menyertai dia. Ia tetap bekerja dengan baik hingga menjadi orang kepercayaan tuannya.


Akan tetapi, masalah tidak selesai di situ. Ia dituduh melecehkan istri tuannya, sehingga ia dimasukkan ke penjara. Di sana, Tuhan pun menyertai dia. Yusuf menjadi orang kepercayaan kepala penjara. Ia membantu mengartikan mimpi rekan tahanannya yang kemudian keluar dari penjara. Ia sempat berpesan kepadanya untuk meminta Firaun membebaskannya, namun rekannya itu juga lupa kepadanya.


Yusuf kemudian menunggu dua tahun lamanya sebelum akhirnya ia membantu mengartikan mimpi Firaun. Ketika itulah Firaun baru membebaskan dia, bahkan menjadikan Yusuf tangan kanannya. Yusuf harus menunggu dalam diam selama dua tahun untuk bisa sampai di posisi itu. Tidak berhenti di situ, saudara-saudaranya kemudian juga datang untuk meminta bantuan Yusuf dalam musim kelaparan. Di akhir cerita, Yusuf mengatakan kepada mereka, “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (TB Kej 45:5).


Dari kisah ini, kita melihat bahwa setiap hal yang Yusuf alami merupakan penyelenggaraan Tuhan baginya. Tuhan selalu merencanakan kebaikan bagi kita dan melakukan segalanya untuk kebaikan. Yusuf tidak menjadi bitter karena kesulitannya, melainkan menjadi pribadi yang better, karena ia tetap percaya pada penyelenggaraan Tuhan baginya.

Riko mengajak kita untuk percaya pada apapun yang dilakukan Tuhan bagi kita. Seperti ajaran Gereja mengenai penyelenggaraan Ilahi, kita tahu bahwa Allah merencanakan ultimate goodness bagi kita. Bahkan, segala hal yang terjadi, yang kita rasa buruk, adalah bagian dari proses menuju ultimate goodness itu.


Bulan Februari baru saja dimulai. Jika kamu sudah mulai melihat hal-hal “buruk” yang terjadi dalam sebulan belakangan ini, yang tidak sesuai dengan keinginanmu, mari kita meniru Yusuf dan percaya pada penyelenggaraan Tuhan yang begitu mencintai kita.


Penulis: Aufa - Servi Dei DC Jakarta

Editor: Anastasia Avi - Sancta Gratia DC Jakarta

14 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Opmerkingen


bottom of page