Planted Series: Bertumbuh di dalam Kegelapan

Tak terasa kita sudah hampir memasuki tahun baru 2022. Gereja Katolik juga sudah memasuki tahun liturgi yang baru. Saat yang tepat untuk kita merefleksikan apa yang sudah dilalui setahun ke belakang dan membuat resolusi setahun mendatang. Seperti biasa setiap tahun Domus Cordis mengangkat satu tema, demikianpun di tahun liturgi Gereja Katolik yang baru ini, Domus Cordis mengangkat tema “Planted”.


Planted” atau “tertanam” adalah suatu kondisi di mana biji tanaman dimasukkan ke dalam tanah dengan tujuan supaya biji itu bisa tumbuh. Jika kita menempatkan diri sebagai sebuah biji tanaman, maka kondisi tertanam bisa dikatakan sebagai kondisi yang gelap, tertimbun, sendirian, tidak terlihat oleh siapapun, bahkan bisa dikatakan tidak jelas apa yang akan terjadi. Tentunya hal ini bukan hal yang nyaman atau menyenangkan bagi kita.


Anehnya, Yesus menggunakan perumpamaan biji yang tertanam untuk menggambarkan mengenai kerajaan Allah dalam Markus 4: 26-29. Ia tidak menggambarkan istana yang megah atau hal yang mewah. Ia menganalogikannya dengan biji kecil yang ditanam, kemudian tumbuh, dan menghasilkan buah yang memberkati banyak orang. Di Perjanjian Lama, orang-orang yang diberkati Tuhan juga dikatakan sebagai pohon yang ditanam di tepi aliran air dan menghasilkan buah, seperti dalam Mazmur 1:3 dan Yeremia 17:8.


Proses ditanam adalah tahap permulaan dari suatu hal yang besar. Proses penanaman sebuah tumbuhan dimulai dari kulit luar biji tersebut yang harus pecah di dalam tanah dan tentunya berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan, supaya bisa menumbuhkan akar. Akar-akar tersebut kemudian menyusup ke celah-celah mencari nutrisi dalam tanah, hingga akhirnya biji tersebut tumbuh menjadi suatu tanaman. Proses ini terjadi secara perlahan, tapi pasti setiap harinya.


Saat ini, kita bisa jadi ada dalam posisi tersebut. “Ditanam” sendiri bisa jadi adalah suatu hal yang dilakukan orang lain kepada kita. Jadi, ada orang lain yang sedang “menanam” kita, misalnya di lingkungan kerja, keluarga, atau dalam situasi lainnya. Seperti halnya biji tidak bisa menanam dirinya sendiri, kita pun tidak bisa “menanam” diri kita sendiri.


Ada dua cara melihat saat kita seakan berada di dalam tanah. Kita bisa melihat bahwa kita berada dalam kondisi “di tanam”, namun bisa juga dari sudut pandang lain yaitu “dimakamkan”. Menurut Riko, perbedaannya adalah orang yang dimakamkan tidak dapat bangkit lagi, sementara orang yang ditanam dapat menumbuhkan dirinya dan menghasilkan buah yang menjadi berkat. Orang yang dimakamkan “menyerah” ketika berada di dalam tanah, sementara orang yang ditanam tidak menyerah, karena memiliki harapan bahwa ia akan bangkit lagi.


Tidak ada orang yang menanam biji tanpa harapan. Orang tersebut tentu berharap agar bijinya dapat bertumbuh menjadi tanaman yang menghasilkan. Karena itulah, kita juga bisa punya harapan bahwa situasi “tertanam” yang saat ini kita alami juga akan menghasilkan buah yang baik di dalam Tuhan. Harapan di dalam Tuhan adalah alasan bagi kita untuk tidak menyerah dalam proses "di tanam" ini.


Pertanyaan untuk kita renungkan bersama adalah:

Ketika kita sedang tertanam di dalam tanah saat ini, apakah kita mau memecahkan kulit luar kita? Apakah kita mau mengusahakan supaya bisa menumbuhkan akar dan menyerap nutrisi yang ada di tanah? Apakah kita mau tumbuh?

Mari kita berefleksi untuk menjawabnya, dan menyosong tahun baru 2022 yang penuh harapan.


Christ is always the assurance, after all.

Sampai berjumpa lagi di Inspire di tahun baru 2022!


Video lengkap dapat disaksikan di:


Penulis: Aufa - DC Jakarta (Caritas)

Editor: Ermelinda - DC Jakarta (Gioia)

3 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua