Rose for Hope dan Kepedulian pada Lingkungan

Paus Fransiskus mengeluarkan Ensiklik Laudato Si pada tanggal 24 Mei 2015. Ensiklik ini mengajak kita semua untuk peduli pada lingkungan. Kita semua punya tanggung jawab untuk mendorong berbagai perilaku yang memiliki dampak langsung dan signifikan untuk pelestarian lingkungan, seperti: menghindari penggunaan plastik dan kertas, mengurangi penggunaan air, memilah sampah, memasak secukupnya saja untuk dimakan, memperlakukan makhluk hidup lain dengan baik, menggunakan transportasi umum atau satu kendaraan bersama dengan beberapa orang lain, menanam pohon, mematikan lampu yang tidak perlu (Ensiklik Laudato Si, 211).


Pada kesempatan program Rose for Hope Oktober 2022 ini, tim teknis yang berada di DC Keuskupan Agung Semarang juga berusaha untuk lebih peduli pada lingkungan. Ceritanya seperti diungkapkan oleh Yessi berikut ini:


Ini kali kedua aku terlibat dalam Rose For Hope (RFH), kegiatan penggalangan dana dari komunitas @domuscordis yang menawarkan bunga mawar dan lilin untuk dipersembahkan di Gua Maria dan kemudian didoakan oleh tim doa kami. Biasanya RFH dilaksanakan oleh teman-teman di Jakarta, tapi kali ini, tim Semarang & Medan dipercaya untuk menjadi pelaksana teknis.


Pertama kali terlibat dalam kegiatan ini, di bulan Mei yang lalu, aku sedih karena harus menggunakan pana*** yang katanya bisa mengawetkan bunga potong (Iya, kami masih pakai bunga potong karena untuk konsep RFH masih belum bisa menggunakan bunga hidup).


Namun di program kali ini, karena sudah lebih berpengalaman, kami punya waktu untuk bereksperimen mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan, yaitu menggunakan campuran air dan Eco Enzyme (EE). Akhirnya, untuk RFH kali ini, kami tidak perlu pana*** lagi. Kami hanya gunakan air EE untuk merendam bunga-bunga mawar kami.

Untuk #repurpose sebagian pot yang kami gunakan pun adalah pot hasil kreasi dari galon l* min**** dan toples bekas sos** (terima kasih @ilumut365 ). Karena pot-pot ini, tidak berlubang, kami tidak menggunakan spon bunga. Kami cukup isi dengan pasir dan air, tidak lupa ditambahkan sedikit EE.



Apakah kami masih menghasilkan sampah dalam persiapan?

Ya tentu saja.. namanya juga belajar mengurangi.

Ada beberapa benda yang terselamatkan untuk tidak jadi sampah, yaitu kertas pembungkus bunga dan sebagian gelas plastik sisa konsumsi kami yang akan disumbangkan ke Bank Sampah. Ada juga beberapa bunga mawar patah yang mungkin akan jadi pembatas buku.

Refleksi pribadiku adalah tidak perlu kecewa kalau hidup minim sampah kita tidak sempurna karena memang selalu ada ruang untuk ketidaksempurnaan. Kita harus legowo saat menghadapi sisa konsumsi yang akhirnya tetap berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir karena berbenturan dengan situasi. Lakukan hal yang kita bisa. Meskipun kecil, tetapi kontribusi setiap orang itu penting. Bahkan hanya dengan bertanya, "Yessi ini bisa dijadiin apa (sambil nunjuk barang yang potensi jadi sampah)?" Teman-temanku di Missio Dei (nama kelompok sel DC Keuskupan Agung Semarang) juga sudah berkontribusi dalam penyelamatan lingkungan.


Penulis: Florentina Yessica - Missio Dei (DC KAS)

Editor: Tasia - Salve Regina (DC Jakarta)


26 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua